BY: ZAINAL ASLI BUJANG PONTIANAK


SUMATERA EKSPRES L.P.6
0

Ketegaran Mengalahkan Kebodohan

Minggu, 13 Juni 2010.

Ketegaran Mengalahkan Kebodohan
TOKOH - Kamis, 12 Juli 2001



“Sejak memeluk Islam gelora semangat Tufail pemimpin suku ad-Dausy untuk berdakwah pada kaumnya makin tak terbendung. Mula-mula pada istrinya, ia lansung menyodok “ dengarkanlah..... mulai detik ini engkau bukan milikku dan aku bukan milikmu.”
“Mengapa demikian wahai suamiku?” Islam telah membedakan aku dan engkau!

” Tidak...sebab agamamu adalah agamaku!” jawab sang isteri mantap.

Seruan dakwah Tufail, disambut dingin. Kecuali oleh dua orang, Abu Hurairoh dan Abul Akr, yang menyambut.hangat Abul Akr adalah suami dari Ghaziyah binti jabir, wanita yang sontak mengimani apa yang diimani suaminya.

Dari sinilah bermula kisah ketegaran seorang Ghaziyah binti jabir. Wanita yang terkenal juga dengan dengan sebutan Ummu Syariek itu tanpa sungkan sejak itu memperlihatkan ciri-ciri keimanannya pada masyarakatnya. Muslimah itu berharap, akhlak-akhlak karimah yang diperlihatkannya, akan makin membuka kesadaran kaumnya.

Namun ternyata harapannya melesat, tetangga-tetangganya malah jadi berang dengan ulah Ummu Syariek, dan langsung mengadukan perihal keislaman wanita itu pada saudara-saudaranya. Suatu hari , tatkala suaminya sedang tak berada dirumah, saudara-saudara suaminya beramai-ramai menggedor pintu rumah Ummu Syariek. Dengan wajah beringas penuh permusuhan, mereka menanyakan wanita itu.

'Apakah engkau telah memeluk Islam?

“Benar,”jawab Ummu Syariek tegas.

“Kalau begitu, tidak ada jalan lain, kami akan menyiksamu dengan siksaan yang keras!”

Dengan gagah berani, Ummu Syariek menegaskan, ia tak gentar oleh ancaman itu. Ia katakan pada begundal-begundal suku Dausy itu, apapun yang akan diancamkan pada dirinya, ia tak akan keluar dari keimanan-nya. Para begundal itu makin berang.

Setelah ancaman dan bujuk rayu mereka gagal, mereka menyeret wanita mu’minah itu, lalu memasukkannya kesebuah rumah kosong yang kotor bersama seekor unta yang penuh koreng. Bila matahari tengah terik membakar, wanita itu diseret keluar, lalu dipentangkan ditengah-tengah padang pasir. Selama dalam siksaan itu, tak setetes air pun diberikan kepadanya. Sembari menyiksa, para begundal itu terus memteror Ummu Syariek;

“Tinggalkan agama Muhammad!”.

Andai saja Ummu Syariek tidak bersikeras, rayu para penyiksa itu, niscaya ia akan dibebaskan dari siksa yang berat. Tapi apa sikap wanita mu’minah itu? ia selalu menunjuk-nunjuk jarinya keatas langit, membuat isyarat ahad [tauhid], sebagaimana yang dilakukan sahabat Bilal r.a. Bibir wanita tegar itupun , tak putus-putusnya bertakbir, bertahmid dan bertasbih Bertubi-tubi siksaan yang mendera-nya, begitu pula diiringi nya siksaan itu dengan kesibukan berdzikir kepada Allah. Boleh jadi, para penyiksanya sampai bosan dan lelah mendera wanita perkasa itu.

Kemudian merekapun memutuskan untuk meninggalkan wanita ‘pembangkang’ ituterpentang sendirian di tengah padang pasir yang tengah terik terbakar matahari. Ketika itulah terjadi suatu mu’jizat Robbani. Ummu Syariek sibuk berdzikir sembari menahan dahaga luar biasa. Tatkala ia sekonyong-konyong merasakan sebuah timba air yang datang menghampi-rinya. Ia pun meneguk air itu sepuas-puasnya, dan setelah itu timba itu menjauh darinya. Ummu Syariek menoleh ke arah mana datangnya timba itu.
Demikianlah, beberapa kali timba itu mendekat, dan Ummu Syariek merenguk sepuas-puasnya. Bahkan sekujur badannya disiramnya , hingga ia merasakan kenyang dan sejuk. Dan tatkala para begundal Dausy datang kembali,lalu mengetahui keadaan wanita itu, mereka pun terperanjat luar biasa.

“Dari mana kau peroleh air itu, hai musuh Allah?”.

“Musuh Allah...? sesungguhnya kalianlah musuh Allah, manusia-manusia yang membenci agama-Nya. Kalian tanya darimana air itu? Dari Allah. Dia memberi rizki kepada saya!”jawab Ummu Syureik gagah.

Mereka masih sangat tidak yakin atas keterangan wanita mu’minah itu. Segera gerombolan penyiksa itu menghampiri sumur yang ada di dekat situ, lantas mengamati timbanya. Ternyata timbanya masih di tempat semula tanpa berubah sama sekali. Berarti Ummu Syariek amat mustahil bisa mengambil air. Entah kenapa, menyaksikan kenyataan ini, para pegundal Dausy itu jadi tercenung. Segera saja tanpa komando, dari bibir salah seorang penyiksa itu terlontar ucapan :

“Sungguh...kami bersaksi bahwa Tuhanmu, Tuhanku pula, Tuhan yang mendatangkan rizki di tempatmu. Dialah yang menurunkan Islam.”

Sejak saat itu para penyiksanya menyatakan tobat, dan masuk Islam. Lalu mereka pun komitmen, menyatakan siap menjadi da’i dan pembela islam. Tercatat akhirnya dalam sejarah, seluruh keluarga Abul Akr memeluk Islam.

Ketegaran Ummu Syariek, adalah fenomena luar biasa yang baru pertama kali mereka saksikan. Tak mungkin sebuah keyakinan dipertahankan dengan sangat begitu gigihnya, kalau keyakinan itu palsu. Ketololan mereka pun akhirnya rontok oleh sebuah ketegaran Ummu Syariek. Wanita itu telah memberikan pelajaran pada mereka, betapa mahalnya harga sebuah Iman. Iman yang jujur adalah sebuah formulasi 'Robbany yang memadukan keyakinan total, kepasrahan sempurna, keberanian dan keistiqomahan” yang mampu melahirkan kekuatan tak terkalahkan. Hanya dengan iman yang jujur, kemungkaran apapun dan bagaimanapun bentuknya, pasti akan dapat dihancurkan dengan izin Allah. Dan Ummu Syariek telah membuktikan hal itu.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kemudian mereka tidak ragu-ragu. Dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang jujur [imannya]”. [Q.S. Al-Hujurat : 15].

Sumber : majalah Ummi No.10/ 1995M
Leia Mais...
0

Abdullah bin Zubeir

Selasa, 08 Juni 2010.
Abdullah bin Zubeir
TOKOH - Selasa, 14 Agustus 2001



Isu bahwa kaum muslimin tidak akan bisa melahirkan bayi karena telah diteluh oleh dukun-dukun Yahudi di Madinah, terjawab sudah. Seorang wanita mulia putri As Siddiq telah melahirkan kandungannya ketika beliau sedang hijrah dari Makkah ke Madinah menyusul teman-temannya seaqidah. Beliau tidak lain adalah Asma` binti Abi Bakar yang melahirkan bayi laki-laki-laki-laki di Quba` dan diberi nama Abdullah. Sebelum disusui Abdullah bin Zubeir dibawa menghadap Nabi SAW dan ditahniq dan didoa`kan oleh beliau.

Abdullah yang memang lahir dari pasangan mujahid dan mujahidah ini berkembang menjadi seorang pemuda pewira yang perkasa. Keperwiraannya dimedan laga ia buktikan ketika bersama mujahid-mujahid lainnya menggempur Afrika membebaskan mereka dari kesesatan. Pada waktu mengikuti ekspedisi tersebut usianya baru berkisar 17 tahun. Namun begitulah kehebatan sistem tarbiyah Islamiyah yang bisa mencetak pemuda belia menjadi tokoh-tokoh pejuang dalam menegakkan Islam.
Dalam peperangan tersebut jumlah personel diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Personel kaum muslimin hanya 120 ribu tentara sedangkan musuh berjumlah 120 ribu orang. Keadaan ini cukup membuat kaum muslimin kerepotan melawan gelombang musuh yang demikian banyak, walau hal itu tidak membuat mereka keder. Sebab bagi mereka perang adalah mencari kematian sedang ruhnya bisa membumbung menuju jannah sebagaimana yang telah dijanjikan Rabb mereka.

Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut segera Abdullah memutar otak mencari rahasia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawaban, bahwa inti kekuatan musuh bertumpu pada raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Segera dan dengan penuh keberanian ia mencoba menembus pasukan musuh yang berlapis-lapis menuju kearah panglima Barbar. Upayanya tidak sia-sia, ketika jarak antara dirinya dengan raja Barbar telah dekat segera ia tebaskan pedang nya menghabisi nyawa panglima kaum musyrik tersebut. Panji pasukan lawan pun direbut oleh teman-temannya dari tangan musuh. Dan ternyata dugaan Abdullah tidak meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian mereka bertekuk lutut dihadapan para mujahid yang gagah berani.

Selain seorang jago perang, Abdullah juga seorang `abid yang penuh rasa khusuk dan ketawadhuan. Mujahis penah memberi kesaksian bahwa apabila Ibnu Zubeir sedang sholat, tubuhnya seperti batang pohon yang tak bergeming karena khusuknya dalam sholat. Bahkan Yahya bin Wahab juga bercerita bahwa apabila `Abdullah bin Zubeir ini sedang sujud, banyak burung-burung kecil bertengger dipunggung beliau karena mengira punggung tersebut adalah tembok yang kokoh. Tokoh yang tegas dalam kebenaran ini wafat pada usia 72 tahun terbunuh oleh tangan pendosa Hajjaj bin Yusuf.

[ dikembangkan dari Shifatu ash-Shofwah, juz 1,hal 344 ]

Wassalam
Leia Mais...
0

Pentingnya Waktu dan Tempat

Minggu, 06 Juni 2010.

Pentingnya Waktu dan Tempat


- Praktik sufi bag 8Tempat dan waktu sangatlah berpengaruh bagi praktik sufi
karena perbedaan tempat dan waktu akan menentukan
kondisi setempat
Guru spiritual sangat mementingkan tempat dan waktu yang khusus untuk meditasi, doa, dan praktik- praktik spiritual lainnya. Ada tempat-tempat tertentu yang mempunyai sifat-sifat alamiah yang dipengaruhi, misalnya, oleh medan magnet listrik dan kedekatan kepada bukit-bukit granit, sungai, atau sumber air lainnya. Ada banyak tempat di muka bumi ini di mana orang merasakan adanya daya tarik untuk berada disana. Juga ada tempat-tempat yang berdaya tolak, seperti, misalnya, dekat jalur listrik tegangan tinggi, yang menghalau kebanyakan hewan yang dapat merasakan getaran buruknya sehingga menjauhi pencemaran semacam itu, tidak seperti kebanyakan manusia yang tidak sepeka hewan.

Jelaslah, setiap tempat mempunyai energi atau ekosistem tertentu. Ada tempat-tempat tertentu di muka bumi yang mempunyai konsentrasi energi yang tinggi, seperti Mekah, Madinah, Yerusalem, dan makam para nabi zaman dahulu serta para wali, para syekh dan pemimpin spiritual, ke mana orang tertarik secara konstan. Apabila seseorang mengunjungi tempat-tempat itu, ia merasa bahwa suatu peristiwa besar pernah terjadi di sana, dan perasaan ini sering membantu dalam menyembuhkan hati dan meninggikan tingkat spiritual seseorang. Tempat-tempat itu banyak membantu apabila seseorang dibimbing dan dipersiapkan untuk mengangkat keadaannya.

Komentar yang sama juga berlaku pada waktu. Ada suatu hubungan penting, walaupun tak kentara, antara waktu dan musim yang berubah-ubah, fase-fase bulan, fluktuasi suhu, dan kondisi-kondisi perubahan lain yang berkaitan dengan waktu. Tak diragukan bahwa ada tendensi dan kecenderungan dalam lingkungan kosmik berkenaan dengan energi positif dan negatif yang mempengaruhi iklim bumi secara fisik maupun spiritual pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, tidak diketahui pada malam tertentu mana di bulan Ramadan terdapat lailatul qadr, tetapi menurut tradisi malam itu adalah tanggal 21 atau 23 atau 25 atau 27 atau 29 bulan Ramadan. Pada malam itu seakan-akan semua kekuatan kosmik yang sesuai terfokus bersama-sama dan diperbesar, dan seakan-akan tak ada katup spiritual di "langit" serta jauh lebih kondusif untuk duduk bermeditasi. Dzikrullah dan berjaga malam pada waktu seperti itu, di tempat seperti Mekah atau Madinah atau di makam seorang syekh sufi, lebih efektif daripada di waktu dan tempat lain.

Maka pengetahuan tentang waktu dan tempat merupakan bantuan penting ketika mengikuti praktik- praktik spiritual. Misalnya, dikatakan bahwa sepertiga malam bagian akhir, sebelum fajar, adalah salah satu waktu terbaik untuk zikir kepada Allah dan berdoa, dan bahwa tempat yang terbaik untuk praktik-praktik semacam itu adalah tempat yang bersih dan bebas dari perbuatan batil. Namun, apabila seseorang telah bertekad dan terbimbing dengan baik maka tempat dan waktu kurang penting baginya. Ketika Imam Ali ditanya, "Hari apa saja dalam setahun yang buruk?" ia menjawab, 'Janganlah menjadi musuh dari hari maka tak ada hari yang akan menjadi musuh Anda." Dari puncak tinggi kedudukan spiritualnya, ia tidak membeda-bedakan atau melihat perbedaan antara hari baik dan hari buruk. la semata-mata hanya menyaksikan rahmat dan cinta Allah sepanjang waktu, di mana pun, walaupun ia berada dalam keadaan sedang ditetak oleh pedang pembunuh ketika sujud di hadapan Allah Yang Maha Esa, yang melampaui waktu dan tempat.

Imam yang sudah tercerahkan melihat seluruh kosmos dalam hatinya. la memandang hatinya sebagai rumah suci penyembahan kepada Allah di pusat kosmos. la melihat jejak-jejak Allah pada setiap waktu. Namun, bagi orang awam, dalam urusan spiritual, nampak seakan-akan Allah lebih hadir pada waktu-waktu tertentu dan di tempat-tempat tertentu ketimbang di waktu atau tempat lain.

Tujuan akhir dari semua praktik sufi yang sejati ialah menyadari hakikat-hakikat yang tak terbatas ketika hakikat terungkap dengan caranya sendiri yang alami di dalam setiap hati. Percikan-percikan cahaya yang memancar dari dalam tak terhitung banyaknya dan tak terbatas dalam kombinasi dan perubahannya, meliputi segala sifat, namun hakikatnya adalah satu. Sufi sejati tak akan berhenti sampai ia mapan dalam pengetahuan tentang hakikat, dan apabila ini terjadi, semua cahaya, manifestasi dan sifat-sifat mulia lainnya memudar dalam gemerlapnya cahaya kebangunan batin. Leia Mais...
0

Tujuan Praktik Sufi


Tujuan Praktik Sufi

- Praktik sufi bag 5Praktik - praktik yang dilakukan
untuk kemajuan islam
Tujuan utama dari praktik-praktik sufi adalah pemulihan keutuhan diri manusia. Oleh karena itu para syekh sufi memberikan obat yang berbeda-beda kepada para pengikutnya dalam bentuk berbagai jenis praktik dengan intensitas yang berlainan sesuai dengan jenis penyakit yang diobati. Ternyata setiap tarekat sufi mempunyai doa khususnya sendiri, wirid dan zikirnya sendiri, dan upacara serta metode duduk dan berdirinya sendiri. Sebagaimana praktik-praktik yang djlakukan secara kolektif, guru sufi sering memberikan obat khusus bagi individu tertentu, misalnya, apabila salah seseorang muridnya sakit atau membutuhkan pengobatan khusus, seperti periode jaga malam atau bangun malam yang padat. Apa pun perbedaan mereka yang nampak, satu unsur yang umum kita dapati pada semua tarekat ialah hubungan yang mendalam antara syekh sufi dengan muridnya. Hubungan itu didasarkan pada kepercayaan, cinta dan ketaatan kepada si syekh. Dikatakan bahwa pengikut terbaik itu bagaikan kain lap di tangan tukang cuci. Melalui kepasrahan dan ketaatan seperti itulah maka makna ajaran sang guru itu terserap dengan cepat.

Kita dapati pula dalam banyak lingkungan tarekat bahwa karena cinta dan hormat kepada gurunya, para pengikut bahkan meniru kebiasaan lahiriah dan pakaian guru mereka. Namun, kadang-kadang peniruan ini dilakukan secara ekstrem sehingga kehilangan maknanya dan lebih menjadi tiruan lahiriah yang kosong, yang tak ada manfaatnya, ketimbang menjadi tanda kesatuan atas dasar kesamaan satu sama lain.

Suatu contoh dari peniruan ekstrem ini nampak dalam kasus seorang guru yang, karena kondisi giginya yang buruk, kalau makan selalu bunyi mencapak-capak. Para muridnya, tanpa menyelidiki alasan dari kebiasaan itu, dengan bodoh menirunya. Imam Ja'far Shadiq tak pernah menggunakan siwak untuk membersihkan gigi-nya selama tahun-tahun terakhir hidupnya. Beberapa pengikutnya berpikir bahwa ia telah menemukan cara baru untuk memelihara kebersihan gigi tanpa menggunakan siwak, walaupun ini suatu kebiasaan yang disenangi Nabi Muhammad, dan yang ingin ditiru oleh semua pengikutnya. Imam Ja'far mengatakan kepada mereka bahwa giginya telah demikian lemah sehingga apabila ia menggunakan siwak, maka akan lebih rusak. Yang penting ialah hubungan antara guru dan murid, karena dengan begitu keadaan si murid akan terangkat ke keadaan si guru.

Perhatian utama seorang sufi ialah bagaimana terlepas dari hal-hal fana yang menghalangi seseorang dari kemajuan spiritual. Agar seseorang tidak terus dihalangi oleh aspek kehidupan duniawi, ia memerlukan suatu cara untuk mengalihkan pikiran dari memikirkan hal-hal duniawi itu. Berbagai doa, maupun perhatian yang terkonsentrasi yang hanya diarahkan kepada satu asma atau sifat Ilahi tertentu, atau bentuk zikir lainnya yang sesuai, dapat menyempitkan proses pemikiran dan menyalurkan energi. Jelaslah, mengulang-ulang suatu bunyi khusus dapat membantu usaha mencapai pemusatan ke satu titik. Praktik pemusatan ke satu titik itulah yang memungkinkan seseorang untuk tidak begitu terganggu perhatiannya. Pemusatan ke satu titik adalah suatu keadaan yang demikian didambakan oleh manusia sehingga kita dapati banyak kegiatan rekreasi, hobi, olah raga, dan tentu saja semua usaha ilmiah dan penelitian, terpusat padanya. Dengan mengikuti gerakan bola golf, perhatian orang tidak terganggu oleh peristiwa lain di sekitarnya sehingga pikirannya tidak langsung bingung dan ruwet.

Demikian pula, apabila seorang sufi mengulang-ulang kalimat la ilaha illallah, yang berati "tak ada tuhan selain Allah", maka pikirannya secara berangsur-angsur disapu bersih. Komputer pikirannya dibersihkan. Pikiran manusia cocok benar bila dipanggil untuk berurusan dengan hal-hal yang besifat alami, kausal atau eksistensial. Sebab persoalan tersebut sangat kondusif untuk pemikiran rasional atau logis dan harus bebas dari berbagai pertimbangan psikologis atau emosional yang berlebihan, yang cenderung memacetkannya. Jadi, tujuan dari mengingat Allah (zikir) ialah untuk membersihkan pikiran secara psikologis. Yakni membebaskannya dari doktrin serta membersihkan filter-filternya. Ada macam-macam bentuk zikir untuk jenis penyakit, orang, keadaan, waktu, dan kondisi yang berbeda-beda.

Sebagai sarana untuk sampai kepada konsentrasi tunggal, penyebutan sifat-sifat Allah adalah penting. Sifat-sifat seperti ar-Rahman (Penyayang) , ash-Shabur (Sabar) , al-Khaliq (Pencipta) , ar-Razaq (Pemberi Rezeki) , al-Lathif(Maha halus), al-Wadud (Cinta), as-Salam (Damai), dan seterusnya, secara berulang-ulang disebut dan diseru, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan seseorang. Kata Allah yang menunjukkan esensi realitas juga sering disebut-sebut Kedua sifat, Yang Hidup dan Yang Abadi ( al-Hayyu al-Qayyum), bunyinya sangat mirip dengan seruan AUM dalam bahasa Sansakerta ketika disebutkan berbarengan. Tak diragukan bahwa mengalunkan asma dan sifat-sifat Ilahi ini sangat banyak menolong dalam menimbulkan keadaan terpusat dan tenteram pikiran yang didambakan.

praktik-praktik dan zikir ini membantu semua level, tetapi sebaiknya dilakukan oleh guru spiritual. Memungut secara sembarangan dan mengulang-ulang beberapa zikir atau praktik sufi yang pernah dibaca atau didengar, bisa saja mendatangkan efek-efek yang bermanfaat, tetapi tidak bernilai langgeng. Lagi pula tak ada pengganti bagi kearifan dan pengetahuan serta pendampingan dari seorang guro spiritual yang sebenarnya.

Ada cerita tentang seorang kolektor barang antik yang menemukan sebuah naskah kuno dalam bahasa Arab. Di dalamnya terdapat resep untuk mengobati berbagai penyakit lever. di antara petunjuknya menyatakan bahwa seekor ular hitam harus digiling dan dicampur dengan ramuan-ramuan lainnya. Maka si kolektor barang antik itu mencari ular hitam, meracik obatnya, lalu menunggu orang kaya yang menderita penyakit hati. Ketika seorang pangeran muda terkena hepatitis, dokter yang mengangkat diri sendiri itu segera ke istana raja dengan ramuan rahasianya. Dalam satu hari pangeran itu mati dan si kolektor barang antik pun dipenjarakan seumur hidup.

Bagi orang awam, kata ular dan benih dalam bahasa Arab nampak sama, karena tertulis hampir secara identik kecuali tidak adanya satu titik. yang sangat penting adalah bahwa resep itu harus datang dari orang yang tepat Guru spiritual yang sejati, apabila ia baik, ikhlas dan dalam ketundukan, akan memberikan kepada muridnya obat yang spesifik dengan cara yang spesifik. Kira-kira seperti menginstruksikan kepada seseorang tentang di mana mendapatkan harta terpendam. Pengarahan yang tepat dan jumlah langkah yang tepat yang harus dilakukan mutlak harus diikuti; kalau tidak maka pencari yang penuh gairah tetapi sembrono mungkin memutuskan untuk menambah sendiri beberapa langkah dan sama sekali gagal mendapatkan harta itu.

Pendekatan yang sama berlaku pada instruksi-instruksi yang diberikan oleh guru spiritual mengenai berbagai bentuk zikir, salat, dan doa. Adakalanya, kita mendapat resep spiritual dari orang yang tak memenuhi syarat dan percaya takhayul dengan maksud baik, tetapi hasilnya tidak efektif atau hanya berlangsung sementara.

Tetapi, tak diragukan bahwa setiap meditasi atau pujian kepada Tuhan dan zikir itu secara spiritual bermanfaat Kira-kira seperti meminum tonikum umum yang menolong setiap orang, apa pun keluhannya. Namun, dalam hal penyakit yang akut atau khronis, tonikum hanya membawa kelegaan sementara dan terbatas, dan pelayanan seorang dokter yang cakap diperlukan. Berbagai bentuk zikrullah dari setiap tarekat sufi adalah bermanfaat. Setiap zikir yang datang dari guru spiritual sejati membawa manfaat, sekalipun tidak diresepkan khusus bagi orang yang melakukannya, tetapi bilamana suatu bentuk zikrullah diresepkan oleh guru rohani secara individual, dan disalurkan dari hati ke hati, maka suatu langkah efektif ke arah kebebasan telah ditempuh. back
Leia Mais...
THAKS FOR U ATTENTION
 
Santri Pesisir © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |