BY: ZAINAL ASLI BUJANG PONTIANAK


SUMATERA EKSPRES L.P.6
0

Wanita Yang Berhijrah Dua Kali

Selasa, 15 Juni 2010.

Wanita Yang Berhijrah Dua Kali
TOKOH - Kamis, 12 Juli 2001



Rombongan muhajir ke Habasyah membawa 11 orang wanita. Ini berarti bahwa wanita muslim adalah bagian dari dakwah dan jihad di jalan Allah. Mereka tinggalkan kesenangan hidup yang hanya sebentar, berupa harta, anak dan keluarga serta negeri demi Allah. Mereka tinggalkan tanah airnya yang mahal dan berangkat menuju Habasyah, sebuah negeri yang jauh dengan penduduk yang berlainan bangsa, warna dan suka, demi membela akidah yang diimaninya.
Tatkala fajar dakwah memancar dari Mekkah, maka muhajir pertama bukanlah dua orang laki-laki, tetapi seorang laki-laki dan seorang wanita. Kedua Muhajir ini adalah Utsman bin Affan dan Ruqayyah binti Muhammad saw. Ruqqayah lahir sesudah kakaknya, Zainab. Sesudah kedua orang itu, muncullah Ummu Kaltsum yang menemani dalam hidupnya setelah Zainab menikah.

Ketika keduanya mendekati usia perkawinan, Abu Thalib meminang mereka berdua untuk kedua putra Abu Lahab. Allah menghendaki perkawinan ini tidak berlangsung lama, karena melihat sikap Abu Lahab terhadap Islam. Akan tetapi Allah swt. Menampilkan Utsman bin Affan kepada kedua putri itu. Maka dia pun menikah dengan Ruqayyah dan hijrah bersamanya ke Habasyah. Ummu Kaltsum tetap tinggal bersama ayah dan ibunya menunggu sesuatu yang ditakdirkan baginya.

Imam Adz-Dzahabi berkata: 'Ruqayyah hijarah ke Habasyah bersama Utsman dua kali. Nabi saw. Bersabda: 'Sesungguhnya kedua orang itu [Utsman dan Ruqayyah] adalah orang-orang yang pertama hijrah kepada Allah sesudah Luth.' Ruqqayah kembali bersama Utsman ke Mekkah dan mendapati ibunya Khadijah telah wafat. Kemudian kaum Muslimin pindah dari Mekkah ke Madinah semuanya. Ruqqayah juga ikut hijrah bersama suaminya, Utsman, sehingga dia menjadi wanita yang hijrah dua kali. Tak dirasakannya kesulitan-kesulitan selam hijrah, ia teguhkan hatinya untuk berhijrah dan setia selalu mendampingi suaminya.

Penyebab hijrah ke Habasyah adalah takut fitnah dan menyelamatkan agama mereka menuju Allah. Bukan menyebarkan agama Islam, karena Habasyah pada waktu itu menganut agama baru yang menyainginya meskipun Habasyah diperintah oleh Raja yang tidak menganiaya seseorang. Hijrah ke Habasyah merupakan bagian dari peralihan dan kelanjutan perjuangan, karena hasil yang diharapkan oleh kaum Muhajirin dari Hijrah mereka ke Habasyah adalah menyelamatkan agamanya ke negeri yang memberi ketenangan bagi mereka di sana. Di negeri itu mereka tidak mengalami kekerasan dan gangguan sampai ketika saudara-saudara mereka di Mekkah ditakdirkan binasa hingga orang terakhir, membawa panji dakwah sebagai penerus.

Adapaun hijrah ke Madinah, maka penyelamatan agama adalah salah satu penyebab utama. Penyebab utamanya adalah perubahan dan kelanjutan perjuangan di mana para muhajir dapat mendirikan sebuah tanah air di tempat hijrah mereka. Selama 13 tahun Islam merupakan agama tanpa tanah air dan rakyat tanpa negara. Hijrah yang merupakan tahap kedua di antara tahap-tahap dakwah adalah tahapan perjuangan yang paling rumit. Apabila tahapan ini telah memiliki sifat petualangan, maka sesungguhnya petualangan itu hanyalah semacam perjuangan, bahkan macam perjuangan heroik tertinggi.

Tahap perjuangan ini berhasil mendapatkan kemenangan. Iman mengalahkan kekuatan, roh mengalahkan materi dan kebenaran mengalahkan kebatilan. Sesungguhnya kebesaran dari kemenangan itu sulit digambarkan dan dinilai.Kebebasan dari ketakutan dan perjuangan menuju keamanan. Kebebasan dari perbudakan dan perjuangan menuju kemerdekaan. Kebebasan dari kehinaan dan perjuangan menuju kemuliaan. Kebebasan dari kesempitan dan perjuangan menuju kelapangan. Kebebasan dari kelumpuhan dan perjuangan menuju keaktifan. Kebebasan dari kelemahan dan perjuangan menuju kekuatan. Dan kebebasan dari ikatan-ikatan bicara dan perjuangan menuju kebebasan bicara.

Ruqqayah kembali kepada Tuhannya setelah menderita sakit demam. Kemudian Rasulullah saw. Mengawinkan Utsman dengan Ummu Kaltsum. Ia adalah wanita yang teguh, turut mendampingi suami berhijrah saling bantu dan saling memberikan pengorbanan serta pembelaan. Semoga Allah merahmati Ruqqayyah yang hijrah dua kali dan Utsman yang mempunyai dua cahaya, dan semoga Allah membalas keduanya atas jihad dan kesabarannya dengan sebaik-baik balasan.#

dikirim kembali oleh Luluk
Leia Mais...
0

Ummu Habibah binti Abu Shofyan


Ummu Habibah binti Abu Shofyan
TOKOH - Sabtu, 9 Juni 2001



„Ketika Abu Sofyan berkumjung ke Madinah, ia ke rumah putrinya Ummu Habibah. Saat ia hendak duduk di atas tilam itu. Sang ayah menegur : „Wahai putriku, mengapa kau larang aku duduk di tilam itu?' Ia menjawab: „Maaf tilam ini milik Rasululloh, sedang anda seorang musyrik. Dan saya tidak ingin seorang musyrik duduk di atasnya'.
[ Ibnu Ishaq dalam Sirah Nabawiyah].
Abi Sofyan pemimpin Quraisy yang perkasa mengawinkan putrinya , Ramlah binti Abi Sofyan dengan Ubaidilah bin Jahasy; anak bibi Rasulullah saudara Ummul Mukminin Zainab ra. Suami istri baru itu langsung masuk Islam.

Keadaan yang semakin mengkhawatirkan di Makkah, membuat suami isteri itu memutuskan untuk berhijrah ke Habsyi. Mereka berangkat dalam rombongan kedua, sedang Ramlah saat itu dalam keadaan hamil. Abu Sofyan sangat marah dan kalap melihat kenyataan itu. Putrinya sendiri mengikuti ajaran Muhammad dan dia tidak mampu mencegahnya. Ramlah melahirkan seorang anak, namanya Habibah binti Ubaidillah. Sehingga sejak saat itu dia dipanggil dengan Ummu Habibah.

Di Habasya, Ummu Habibah menghadapi kenyataan pahit. Dia terbangun pada satu malam karena mimpi yang menakutkan. Dia melihat suaminya berubah menjadi buruk dan mengerikan. Ternyata suaminya tak seberapa lama kemudian berubah dan beralih agama, masuk Nasrani. Kenyataan ini begitu memukul hati dan perasaannya. Suaminya adalah satu-satunya orang yang diharapkan akan memberikan perlindungan dan ketenangan untuknya yang jauh dari negeri sendiri. Bahkan suaminya juga berusaha memaksa dia untuk berpindah agama. Namun Ummu Habibah berhasil bertahan dengan keyakinannya.

Hatinya pedih bercampur kecewa terhadap suaminya. Kalau hanya untuk berpindah agama, kenapa harus jauh-jauh datang ke Habasy. Menyiksa diri dengan perjalanan yang jauh, bahkan harusmenentang ayahnya, meninggalkan kampung halaman nenek moyangnya. Manusia macam apa, yang membuat isterinya harus berkorban, rela meninggalkan ayahnya yang sangat mencintai putrinya. Jika hanya seperti itu, semua yang dilakukan selama ini pecuma. Buat apa ia bersusah payah berhijrah, memerangi agama nenek moyang yang selama ini dianut. Ummu Habibah merasa geram kepada suaminya yang seenaknya mengganti agama dan keyakinannya. Meninggalkan agama nenek moyangnya, masuk Islam dan sekarang murtad masuk Nasrani. Betapa mudahnya berganti agama seperti orang mengganti baju saja, benar-.benar satu hal yang keterlaluan.

Ummu Habibah memandang puterinya trenyuh, iba. Apa salah puterinya sehingga mempunyai ayah murtad? kenapa harus lahir dari keluarga yang kacau.......bapak Nasrani, ibunya seorang muslimah sedang neneknya musyrik musuh utama Islam? Ummu Habibah berdua dengan puterinya menyepi dan menyendiri karena malu akan perbuatan dan tingkah laku suami, ayah puterinya itu. Pintu rumahnya tertutup, tidak mau bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan yang datang dari daerah yang sama.

Beberapa waktu lamanya Ummu Habibah dan puterinya menyembunyikan diri, hingga satu waktu terdengar ketukan dipintu rumahnya. Ternyata seorang utusan raja Najasi menyampaikan surat sambil berkata, „Raja kami menyuruh anda menyiapkan seorang wakil untuk menikahkan anda dengan nabi Arab itu. Sebab raja kami telah menerima permohonan untuk menjadi wakil nabi anda itu.......'

Ummu Habibah terkejut mendengar berita itu. Disuruhnya utusan itu untuk mengulang sampai tiga kali. Setelah Ummu Habibah yakin dengan berita itu, betapa hatinya gembira yang tidak terkira. Maka Ummu Habibah mengutus Khalid bin Ash bin Umayyah sebagai wakilnya karena merupakan orang yang tertua dari keluarganya. Sore harinya, Raja Najasi mengundang semua kaum muslimin yang ada di Habasya. Kaum muslimin berduyun datang dengan pimpinan Ja’far bin Abi Thalib serta Khalid bin Ash sebagai wakil Ummu Habibah. Setelah semuanya hadir, raja Najasi berkata lewat seorang penerjemahnya, „ Muhammad bin Abdullah menulis surat permohonan padaku, untuk mengawinkan dirinya dengan Ummu Habibah binti Abi Sofyan. Siapa di antara kalian yang mewakili?' Kaum muslimain menyatakan Khalid bin Ash sebagai wakil Ummu Habibah, Najasi mendatangi Khalid sambil berkata, „Kawinkan kepada Nabi kalian, aku memberi lamaran empat ratus dinar...' Khalid menjawab, „Aku terima apa yang diminta Rasulullah saw dan menerima uang lamaran itu......' Setelah selesai upacara perkawinan itu, raja Najasi menjamu dengan makanan dan minuman sebagaimana yang disunnahkan Rasulullah saw. Sesudah selesai acara walimahan itu, mereka berbondong-bondong menuju rumah Ummu Habibah untuk memberi restu. Sejak saat itu Ummu Habibah resmi menjadi Ummul Mukminin di pengasingan.

Pesta meriah diadakan di Madinah untuk menyambut kedatangan Ummu Habibah binti Abi Sofyan di rumah Rasulullah saw. Pamannya, Utsman bin Affan mengadakan walimahan dengan memotong banyak ternak. Sementara itu, Abi Sofyan mendengar perkawinan itu dengan penuh kekesalan.

Ummu Habibah selalu merasa sedih dan tampak murung. Pertentangan dan permusuhan antara ayah dan suaminya belum juga reda. Inilah yang membuat hatinya resah. Kaum Quraisy adalah sanak familinya, sedang kaum muslimin adalah sahabat dan teman seperjuangan suaminya.

Ketika Abi Sofyan datang ke Madinah untuk menemui Rosulullah untuk minta damai dan keselamatan. Abu Sofyan gentar juga sesampai di Madinah. Tapi dia ingat akan puterinya yang berada di rumah Rasulullah. Dengan sembunyi dia menemui putrinya, mohon untuk jadi perantara. Ummul Mukminin terperanjat melihat kehadiran ayahnya di rumahnya. Dia sudah lama tidak bertemu ayahnya sejak hijrah ke Habasya beberapa tahun yang lalu. Melihat kehadiran ayahnya itu, Ummu Habibah berdiri mematung tak mampu berbuat apa-apa. Melihat itu, Abu Sofyan yang mengerti keadaan puterinya tersenyum memaafkan. Abu sofyan langsung mengambil tempat duduk di ranjang Rosulullah karena Ummu Habibah tidak mempersilahkan ayahnya duduk. Melihat itu secepat kilat Ummu Habibah melommpat menggulung tilam diranjang itu dengan segera sebelum ayahnya sempat duduk di atasnya. Dengan heran Abu Sofyan bertanya, „Putriku...kau lipat itu karena aku tak boleh duduk di atasnya?' Ummu Habibah menjawab, „ini tempat Rosulullah. Aku tidak suka ayah duduk di situ sebab ayah seorang musyrik.' Mendengar itu, Abu sofyan langsung bangkit berdiri dengan wajah merah padam. Dengan marah berkata, „lihatlah nanti, kau akan bersedih ketika ayah mati'. Tanpa menoleh dan berkata apa-apa abu sofyan keluar. Ummu Habibah berdiri kebingungan menghadapi peristiwa itu. Dia berdiri menempel pada tembok, tak mampu menangis lagi hingga Rosulullah datang.

Barulah Ummu Habibah tahu maksud kedatangan ayahnya.Ummu Habibah benar-benar merasakan kesulitan dalam keadaan seperti ini, bagaimana sikap yang tepat darinya. Kemenangan-kemenangan Muhammad dan kaum muslimin berarti kebinasaan ayah dan semua familinya. Akhirnya Ummul Mukminin menyerahkan segalanya pada Allah dan Rasul-Nya. Tapi, ada pertanyaan di hati kecilnya. Dapatkah aku melepaskan diri dari ikatan darah ini? itulah pertanyaan yang mengganggu hatinya. Kesedihan yang bagaimanakah yang akan menimpanya melihat kehancuran kaumnya itu? Apakah dia akan dapat melupakan dari hatinya? tapi akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu dijawabnya sendiri. „Tidak,'...hatinya berkata. „Bukankah kecongkakan mereka sendiri yang menghancurkan?', itulah jawaban yang ditimbulkan di hatinya. Tiba-tiba di tengah kebingungan itu muncul harapan betapapun kecil di hatinya. Apakah tidak mungkin ayahnya akan masuk Islam, sebagaimana tokoh-tokoh penentang sebelumnya? Umar bin Khottab, Mu’awiyah adiknya, Khalid ibn Walid, dan Abul Ash, suami Zainab putri Rosulullah saw dll. Harapan yang mungkin sia-sia, tapi tetap dia pegang untuk menentramkan hatinya yang risau Satu-satunya upaya yang dapat dilakukannya adalah berdoa, memohon kepada Allah swt agar ayah dan seluruh keluarganya masuk Islam. Dengan sikap itu dia menjadi tenang, selalu membaca ayat.ayat yang sekiranya akan dapat membuka hati keluarganya. Hanya itulah yang dapat dilakukan untuk menolong dan menunjukkan bakti pada keluarganya.

Alhamdulillah, Abu sofyan ayahnya Ummu Habibah masuk Islam ketika terjadi Futuh Makkah [ kemenangan Islam ].

Ummu Habibah akhirnya meninggal dengan tenang pada tahun 44 Hijriah dalam usia 60 tahun. Dia dimakamkan di Baqi, dan banyak hadits yang telah diriwayatkan olehnya.

Sumber : „Istri-Istri Nabi saw'
Leia Mais...
0

Sang Pemberani Yang Sabar


Sang Pemberani Yang Sabar
TOKOH - Ahad, 10 Juni 2001



Wanita muslimah ini telah beriman pada masa awal-awal kenabian Rasulullah. Peristiwa bukit Shofa adalah sebuah titik tolak untuk membuktikan komitmennya kepada Islam. Ia adalah salah seorang muslimah yang menyokong seruan Rasulullah ketika beliau bersabda kepada kerabatnya di bukit Shofa, „Sesungguhnya aku datang untuk memberi peringatan kepada kalian, bahwa di depan kalian terdapat siksa yang amat keras !'
Dialah Shofiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah sekaligus saudara perempuan sekandung Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia masuk Islam bersama angkatan pertama orang-orang yang beriman kepada seruan dakwah nabi.

Sejak digulirkannya dakwah jahriyah [terang-terangan], Shofiyah tidak pernah lalai dalam menapaki tugas dan kewajibannya sebagai mukminah yang kaaffah [menyeluruh]. Baginya, menerima Islam berarti pula rela untuk menggadaikan dirinya bagi kemuliaan Islam. Sejarah mencatat, bahwa Shofiah terhitung salah satu wanita yang amat gigih menyokong perjuangan Rasulullah. Dan segigih itu pula ia berdakwah kepada keluarga dan kaum kerabat yang terdekat. Putra laki-lakinya pun ikut masuk dalam barisan Islam. Tak ayal lagi, Shofiyah pun harus menghadapi teror, ancaman pembunuhan dan penghinaan dari musuh-musuh Islam. Shofiyah tidak pernah menyesali hal itu, karena itu memang telah disadarinya sejak awal ia menerima Islam secara utuh dan menyeluruh.

Ketika ancaman dan intimidasi begitu berat di Mekkah, Shofiyah dan anaknya ikut dalam rombongan hijrah ke Madinah. Hijrah dalam rangka menyelamatkan iman. Bertahun-tahun ia tinggal di Madinah dan selalu ikut berpartisipasi dalam perang-perang besar yang terjadi.

Perang Uhud menjadi saksi atas kegigihan Shofiyah. Dalam perang Uhud sebagian besar kaum muslimin melakukan tindakan yang tidak disiplin, lantaran tergiur oleh ghonimah [rampasan perang] yang berceceran di kaki bukit Uhud. Inilah satu kesalahan yang mengakibatkan serangan balik tentara kaum kufar. Peristiwa ini nyaris merenggut nyawa Rasulullah. Pasukan kaum muslimin kocar-kacir meninggalkan medan pertempuran. Di saat itulah naluri jihad Shofiyah menyeruak. Ia segera merenggut sebuah lembing, seraya diacung-acungkan dengan gagah.

„Apakah kalian akan meninggalkan Rasulullah ?' teriak Shofiyah bersemangat. Demi mendengan teriakan itu, semangat juang kaum muslimin yang sempat pudar, kembali bergelora. Mereka kembali menyongsong musuh dan akhirnya berhasil menyelamatkan Rasulullah.

Ketika perang usai, Hamzah saudara kandungnya gugur sebagai syahid dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya dicincang oleh Hindun yang ingin membalas dendam. Mendengar peristiwa itu Rasulullah memerintahkan putra Shofiyah untuk menjauhkan Shofiyah dari bekas medan pertempuran. Rasulullah khawatir Shofiyah akan shock melihat keadaan saudaranya itu. Namun, apa yang dikatakan muslimah itu ?

„Berita kematian saudaraku yang mati dalam keadaan tercincang demi membela agama Allah telah sampai kepadaku. Biarlah aku menjenguknya, insya Allah aku mampu bersabar ... !', demikian kata Shofiyah dengan tenang dan sabar.

Ketika Shofiyah sampai di depan jenazah Hamzah saudaranya, ia berkata, „Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu, wahai ayah Amarah. Semoga Allah mengampunimu. Kita adalah kaum yang biasa menyaksikan kematian dan kesyahidan ... sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya.'

Di perang Khandaq [prang parit], Shofiyah kembali menorehkan catatan sejarah. Saat itu kondisi kaum muslimin di Madinah sangat kritis setelah pengkhianatan kaum Yahudi bani Qunaiqa. Pasukan musuh mengelilingi kota dari segala penjuru. Shofiyah yang tengah berjaga, melihat seorang Yahudi mengendap-endap mengelilingin benteng dan melewati parit. Mengetahui hal itu Shofiyah meminta Hasan untuk menyergap si yahudi. Namun Hasan tidak berani. Segera Shofiyah mengambil sebatang tongkat, lalu keluar dari benteng. Dengan mengendap-endap ia mendekati yahudi pengintai itu dan segera memukulkan tongkat yang dibawanya hingga si Yahudi terkapar mati.

Itulah Shofiyah binti Abdul Muthalib, sosok seorang muslimah kaaffah yang pemberani dan sabar. Di dalam tarikh Ath-Thabari diriwayatkan bahwa Shofiyah meninggal dunia pada zaman khalifah Umar bin Khattab pada usia lebih dari 73 tahun. Ia kemudian dikebumikan di pekuburan Baqi’. Beberapa hadits telah diriwayatkan dari lisan wanita sholihat itu, dan banyak pula para perawi yang meriwayatkan hadits yang berasal darinya.

Shofiyah ... semoga Allah menempatkannya pada tempat yang mulia di sisi-Nya.

Sisarikan dari Ummi no 12/VI/1995
Leia Mais...
0

Mulianya Khadijah Istri Nabi

Minggu, 13 Juni 2010.

Mulianya Khadijah Istri Nabi
TOKOH - Ahad, 14 Oktober 2001



'Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan ... darinyalah aku mendapatkan keturunan.'

Begitulah Rasulullah saw berkata tentang kepribadian Khadijjah, istrinya. Seorang istri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan Islam.

Siti Khadijah berasal dari keturunan yang terhormat, mempunyai harta kekayaan yang tidak sedikit serta terkenal sebagai wanita yang tegas dan cerdas. Bukan sekali dua kali pemuka kaum Quraisy mencoba untuk mempersunting dirinya. Tetapi toh pilihannya justru jatuh pada seorang pemuda yang bernama Muhammad, pemuda yang begitu mengenal harga dirinya, yang tidak tergiur oleh kekayaan dan kecantikan.

Bukan harta, ketampanan, ketenaran serta rentangan usia yang ia inginkan, ketika ia memutuskan untuk membangun kembali sebuah rumah tangga dengan pemuda Muhammad. Tapi kepribadian Muhammad yang agung, kejujurannya serta budi pekertinya yang agung, yang telah memikat hatinya.

Ketika suami tercinta diangkat Allah menjadi seorang Rasul penutup, bukanlah sedikit peranan yang dimainkan Khadijah. Darinya Muhammad Rasulullah mendapatkan ketenangan, ketenangan yang selalu didambakan oleh seorang suami dari istrinya.

Ketika Rasulullah datang padanya dengan berkeringat dan wajah yang pucat pasi serta hatinya yang dilanda gundah-gulana setelah kunjungan Malaikat Jibril di gua Hira, di suatu malam Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, dengan lembut dan kasih sayang Khadijah memeluk dan menyelimutinya seraya berkata, 'Bergembiralah ! Demi Allah, Allah tidak akan mengecewakanmu. Engkau adalah seorang yang selalu baik terhadap kerabat, selalu berbicara benar, membantu orang yang lemah, menolong orang sengsara, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri diatas kebenaran.'

Beliau adalah contoh terbaik bagi setiap wanita yang pantas melengkapi kesempurnaan seorang manusia besar, seorang pembawa risalah Islam yang agung, yang tengah mengendap-endapdi dalam pekatnya kepulan debu budaya jahiliyyah. Tanpa sedikitpun keraguan, ia langsung mengimani apa yang Allah turunkan pada Rasulullah di malam itu.

Rumah tangga yang tengah dibangunnya adalah rumah tangga penuh dengan kebahagiaan, atau tepatnya rumah tangga yang paling bahagia, rumah tangga yang selalu diliputi dengan ketakwaan kepada Allah, kesucian yang jauh dari kekotoran nilai-nilai kebodohan dan pemujaan berhala. Salah satu persembahan rasa cinta bagi suaminya, adalah dengan kelahiran keempat putri dan dua orang putra. Putri-putrinya bernama Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah. Sedangkan dua orang putranya bernama Al-Qasim dan Abdullah. Namun atas kehendak Allah pula kedua putranya tersebut hanya beberapa saat berada di pangkuan, kemudian kembali menghadap kehadirat Allah.

Sejenak, hal ini membuat hatinya menjadi resah dan sedih, mengingat akan pentingnya kedudukan seorang anak laki-laki dalam masyarakat Arab masa itu. Namun dengan kesabaran dan tawakal, dia terima semua kehendak Allah tersebut. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun, segalanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah ...

Khadijah adalah seorang istri yang selalu siap disamping suaminya, siap membela dan membantu setiap langkah perjuangan Rasulullah. Pemboikotan terhadap bani Hasyim dan pengusiran keluarga mereka adalah sebagian kecil dari kesengsaraan, derita dan penganiayaan yang dialaminya. Namun tekanan dan penderitaan selama masa pemboikotan tersebut [3 tahun penuh] tidaklah membuatnya menjadi lemah semangat, bahkan ia semakin tegar, tetap tegak mendampingi sang suami.

Siti Khadijah sungguh merupakan nikmat karunia Allah yang dilimpahkan kepada Rasulullah. Seorang istri yang amat setia. Ia selalu berada di sisi Rasulullah, ketika beliau mnghadapi pahit getirnya perjuangan menegakkan Islam.

Betapa banyaknya istri dari nabi terdahulu yang menghianati Risalah yang dibawa suaminya, seperti contohnya istri nabi Nuh dan istri nabi Luth. Namun tidak demikian halnya dengan Siti Khadijah. Air mukanya selalu tampak cerah memantulkan pengaruh wahyu Illahi.

Seperempat abad Khadijah mendampingi Rasulullah. Dalam usianya yang menginjak 65 tahun, Allah berkenan memanggilnya kembali. Tahun tersebut menjadi tahun kesedihan bagi Rasulullah. Betapa tidak, seorang yang selama ini setia mendampingi perjuangannya, menenangkan hatinya, mengorbankan segala yang ada pada dirinya, tidak lagi ada di sisinya.

Sitti Khadijjah, ridha Allah dan Rasulullah baginya, semoga rahmat Allah selalu tercurah atas dirinya.

Sumber : Fiqhus Sirah, karya Muhammad Al-Ghazaly Istri-Istri nabi, karya Aisyah abdurrahman
Leia Mais...
THAKS FOR U ATTENTION
 
Santri Pesisir © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |