BY: ZAINAL ASLI BUJANG PONTIANAK


SUMATERA EKSPRES L.P.6
0

SAYYIDINA UMAR IBN AL-KHATHTHAB MENJELANG GUGURNYA

Jumat, 26 November 2010.

SAYYIDINA UMAR IBN AL-KHATHTHAB MENJELANG GUGURNYA
Sayyidina Umar wafat ditikam ketika memimpin Shalat Shubuh. Beliau selesaikan walau dengan darah bercucuran. Dalam keadaaan sakit berdarah-darah beliau memprioritaskan terlebih dahulu urusan kekhalifahan setelahnya, baru mengarah kepada urusan dirinya.

Sayyidina Umar Ibn al-Khaththâb ra. yang sukses memimpin umat dan membebaskan sekian wilayah di luar Jazirah Arabia, tentu saja sangat dibenci oleh para mantan penguasa yang ditaklukkannya. Mereka menyewa seseorang untuk membunuh beliau, suatu tugas yang tidak terlalu sulit, karena Umar ra. adalah seorang yang enggan dikawal oleh pasukan.



Pada suatu pagi, beliau keluar rumah berkeliling membangunkan kaum muslimin untuk shalat subuh. Beliau sendiri yang mengimami jamaah, mengharapkan mereka meluruskan shaf sebelum menghadap Allah. Di pagi itu, baru saja beliau mengucapkan Takbiratul Ihrâm, tiba-tiba seorang pembunuh yang menaruh dendam atas Umar menikamnya dengan dua kali tikaman. Pertama mengenai bahu beliau dan yang kedua menusuk pinggangnya. Riwayat lain menyatakan tiga tikaman, dan yang ketiga ini di bawah pusar beliau. Tikaman-tikaman itu, tidak melengahkan beliau dari tugas memimpin shalat, bahkan beliau enggan menunda shalat – yang waktunya masih cukup untuk ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Ketika itu juga beliau mencari Abdurrahman bin ‘Auf, agar sahabat Nabi ini mengimami shalat.



Beberapa saat setelah beliau di tikam, silih berganti kesadaran dan ketidaksadaran mengunjunginya. Orang-orang di sekeliling beliau berkata: “Tidak ada yang dapat menyadarkannya seperti shalat – kalau memang dia masih hidup.” Lalu hadirin berucap: “Shalat wahai Amir al-Mu’minin. Shalat telah hampir dilaksanakan.” Beliau sadar dan berkata: “Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam ajaran Islam, bagi yang meninggalkan shalat.” Maka beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran.



Dalam keadaan sadar, beliau berpesan kepada Ibnu ‘Abbâs: “Cari tahulah siapa yang membunuhku.” Maka beberapa saat kemudian Ibnu ‘Abbâs datang menyampaikan bahwa: “Ia adalah si Fairûz, Abu Lu’luah. salah seorang bekas tawanan dari Persia. Umar ra. bertanya: “Si Tukang itu?” Ibnu ‘Abbâs mengiyakan. Maka Umar berkata: “Tuhan mengutuknya. Aku telah memerintahkan berbuat baik kepadanya. Alhamdulillah yang menjadikan kematianku bukan di tangan seorang yang mengaku muslim.” Ketika itu masuk seorang pemuda yang pakaiannya menyentuh tanah – mengesankan kebanggaan. Dalam keadaan berlumuran darah, beliau masih sempat memberi nasihat: “Anak saudaraku! Angkatlah pakaianmu sehingga tidak menyentuh tanah, karena itu menjadikannya lebih bersih dan mengantarmu lebih bertakwa.”



“Dokter” segera didatangkan untuk mengobati luka yang masih bercucuran darah. Beliau disuguhi perahan kurma yang berwarna merah. Tetapi mengalir dari perut beliau dan keluar warna merah, tidak diketahui apakah itu darah atau perahan kurma itu. Lalu beliau disuguhi susu, kali ini keluar berwarna putih kemerah-merahan. Rupanya usus beliau bocor. Sang dokter berbisik kepada beliau: “Sampaikanlah pesanmu – yakni engkau sedang menghadapi maut – seandainya aku menyampaikan selain itu, pastilah aku berbohong.” Beliau pun memutuskan untuk membentuk panitia syura guna menetapkan siapa khalifah sesudah beliau.



Setelah urusan umat selesai, beliau mengarah kepada urusan dirinya. Yang pertama adalah hutang beliau. Beliau ingin menyelesaikannya, atau paling tidak mendapat jaminan tentang pembayaran hutangnya sebelum meninggalkan dunia ini. Beliau berpesan agar mengumpulkan peninggalannya guna membayar hutang beliau, kalau belum cukup, beliau meminta kerelaan keluarga kecil hingga keluarga besarnya. Abdullah – anak beliau – kemudian menjamin untuk membayar semua hutang ayahnya, padahal beliau adalah seorang penguasa penakluk Empire Persia dan Romawi.



Setelah urusan hutang selesai, Umar ra. memerintahkan putranya Abdullah bahwa: “Pergilah menemui Ummu al-Mu’minîn Aisyah dan katakan kepadanya: ‘Umar menyampaikan salam untukmu’. Jangankan katakan Amir al-Mu’minin – karena hari ini aku bukan lagi Amir al-Mu’minin. Katakan kepadanya: ‘Umar meminta izin kiranya dapat dikuburkan bersama kedua sahabatnya’ (yakni Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar ra.).1 Abdullah pun pergi dan tak lama kemudian dia datang menyampaikan perkenan Aisyah ra. – walau Aisyah ketika itu berkata: “Aku tadinya mengharap dikuburkan di samping Rasul, tetapi untuk Umar, maka aku dahulukan beliau atas diriku.” Umar ra. memuji Allah sambil berucap: “Tidak ada sesuatu yang lebih penting dariku melebihi itu”, lalu beliau berkata lagi – takut masih ada ketidakrelaan Aisyah: “Kalau nanti aku telah wafat, maka usunglah aku ke sana dan ucapkanlah salam lalu sampaikan (sekali lagi kepada Aisyah ra.) bahwa Umar meminta izin. Jika dia mengizinkan maka kuburkanlah aku di sana, dan jika tidak, maka kuburkan aku dipekuburan kaum muslimin.”



Ibnu ‘Abbâs ra. menyampaikan bahwa ketika Umar ra ditikam, aku berkata: “Berbahagialah dengan surga.” Beliau menjawab: “Demi Allah, seandainya aku memiliki dunia dan segala isinya, niscaya kutebus dengannya marabahaya yang ada di hadapanku – sebelum aku mengetahui apa yang akan terjadi.” Dalam riwayat yang lain Ibnu ‘Abbâs berkata: “Hai Amir al-Mu’min, engkau telah memeluk Islam, ketika orang banyak masih kafir. Engkau berjuang bersama Nabi, saat orang banyak memusuhi beliau. Engkau terbunuh sebagai syahid, dan tidak ada seorang pun yang berselisih tentang dirimu, Rasul pun wafat dalam keadaan ridha terhadapmu.” Umar ra. meminta agar Ibnu ‘Abbâs mengulangi ucapannya. Maka dia mengulanginya. Lalu Umar ra. berkomentar: “Seorang yang tertipu atau lengah adalah siapa yang kalian tipu atau lengahkan dengan kata-kata itu. Demi Allah, seandainya aku memiliki segala apa yang terdapat di bumi ini, niscaya kutebus dengannya marabahaya yang ada di hadapanku.” Ibnu ‘Abbâs berkata: “Wahai Amir al-Mu’min. Demi Allah, sesungguhnya keislamanmu merupakan kemenangan, pemerintahanmu adalah keberhasilan membuka wilayah baru, engkau telah memenuhi bumi dengan keadilan. Tidak dua orang pun mengadu kepadamu, kecuali keduanya menerima putusanmu.” Sayyidina Umar ra. yang ketika itu sedang berbaring, meminta agar didudukkan. Lalu beliau meminta agar Ibnu ‘Abbâs mengulangi ucapannya. Setelah mendengarnya sekali lagi, beliau berkata: “Apakah engaku akan bersaksi untukku seperti ucapanmu ini di hari Kemudian?” Ibnu ‘Abbâs mengiyakan. Umar sungguh bahagia.


Demikian sekelumit dari kisah Sayyidina Umar serta pesan beliau menjelang wafat.
Sumber :
Disunting dari buku "Menjemput Maut" karya M. Quraish Shihab.
Leia Mais...
0

BERNEO KU SAYANG BORNEO KU MALANG

Selasa, 19 Oktober 2010.

BERNEO KU SAYANG BORNEO KU MALANG
siapa yang tidak tau akan keindahan pulau borneo, yang terkenal sebagai kawasan ter dan paling hijau diantara pulau-pulau yang ada di Indonesia, batu hijau adalah sebuah julukan yang diberikan kepada pulau Kalimantan pada saat pemerintahan hindia-belanda, pada saat tentara VOC melakukan penelusuran melalu jalur udara di pulau Kalimantan. Ternyata mereka sebagai penjajah tertarik kepada pulau Kalimantan yang mempunyai luas pulau kurang lebih Sembilan kali lipatnya dari luas pulau jawa.
Nah saat ini, apakah pulau Kalimantan masih bisa dikatan sebagai kawasan hijau atau kawasan yang sering kita sebuat sebagai green land, dikarenakan hutan dan populasinya sudah banyak yang punah akibat dari bencana alam dan ulah manusia yang telah berlebihan mengambil hasil buminya. Tidak sedikit hutang yang gundul akibat penebangan liar yang dilakukan oleh tangan-tangan yang tidak berbudaya.
Pada tahun 2000 Indonesia mendapatkan panghargaan sebagai kawasan yang mempunyai populasi dan budaya yang sangat indah, dan Indonesia menjadi salah satu paru-paru dunia karena hutannya yang besar dapat mengahasilkan oksigen yang mampu tersebar keseluruh penjuru dunia, namun berselang 6 tahun kemudian, julukan sebagai paruh dunia itu kini harus dipertanyakan kembali, apakah paru dunia tersebut masih dimilik Indonesia atau sudah pindah ke Malaysia.
Hutan Kalimantan adalah hutan yang menduduki peringkat pertama diseluruh nusantara, namun saat ini hutan di Kalimantan sudah berubah menjadi padang tandus, kosong tanpa penghuni. Namun pulau Kalimantan tidak hanya terkenal karena memiliki hutan yang luas akan tetapi pulau Kalimantan juga terkenal karena memiliki corak budaya yang kaya akan keragaman aneka jenis budayanya. Banyak sekali budaya-budaya yang ada di Kalimantan, termasuk keanekaragaman suku-budaya dan tempat pariwisata yang sangat elok, unik, indah dan asyik untuk kita ketahui sebagai salah satu kekayaan Negara kita Indonesia.
Leia Mais...
0

JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN WAKTU


JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN WAKTU
Oleh: M. Zainal Bakri
Santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Asal Kalimantan Barat (Pontianak)
Waktu? siapa sih yang gak tau akan waktu, jangankan kita manusia yang memang sudah memiliki akal fikiran yang diberikan oleh allah SWT untuk berfikir sekaligus membedakan kita dengan mahkluk yang lainnya, mahkluk ciptaan allah yang lain saja tau dan menghargai akan pentingnya waktu dalam kehidupannya, kapan mereka harus makan, kapan mereka harus mulai kerja, kapan mereka harus bersanati ria. kenapa kita sebagai manusia sebagai mahluk cipataan allah yang paling sempurna masih belum bisa menghargai waktu.
Namun kita jangan khawatir, banyak cara agar kita bisa memenej waktu kita dengan baik, salah satunya yakni dengan cara kita membuat jadwal kegiatan kita selama 24 jam, selama beberapa hari, selama beberapa minggu kedepan. kita tinggal menulis dari jam berapa dan mulai hari apa kita akan memulai kegitan kita. Setelah itu kita harus bisa menjalankan jadwal yang kita buat dengan konsisten dan yakin kalau waktu itu memang berarti dalam kehidupan kita, kalau perlu kira suruh sanak saudara, Ibu, Ayah, bahkan Istri kita untuk mengingatkan kita akan jadwal kita hari ini. Mudahkan.?
Kelihatannya mudah namun jagan lupa, diatas tadi sudah saya singgung, kita harus bisa istiqomah atau konsisten dalam memenej waktu, naah disinilah letak kelemahan kita, terkadang kita mampu untuk membuat jadwal dan rencana kegitan kita selama satu hari ini, namun kita terkadang masih berleha-leha disebabkan kebiasaan kita tersebut. Maka dari itu kita jangan lupa untuk mengoreksi agenda kagitan kita selama yang sudah kita lakukan, apakah agenda yang sudah kita buat berjalan dengan baik atau masih ada yang harus kita perbaiki. Selamat mencoba.
Leia Mais...
0

Hermeneutika Al- Qur’an, perlukah?

Minggu, 17 Oktober 2010.

Al-Qur’an selalu menarik, sekaligus menjadi tantangan bagi manusia untuk dikaji. Menarik karena kitab yang diturunkan pada 17 Ramadhan ini mengandung ajaran Ilahi, yang berfungsi sebagai juru penyelamat manusia. Dan menantang, karena di dalamnya banyak “rahasia” Tuhan yang masih belum tersingkap, karena kemampuan manusia yang terbatas. Oleh karena itu tuntutan untuk mengkajinya semakin mengkristal. Seiring lajunya arus modernisasi dan globalisasi, hingga Al-Qur’an tetap menjadi Hudan li An-Nas.

Dewasa ini muncul berbagai disiplin ilmu dalam mengkaji kitab-kitab Tuhan. Diantaranya adalah hermeneutika. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Diharapkan dapat selalu up to date terhadap perubahan zaman dan selalu elastis terhadap multicultural, hingga keberaadaannya dapat dirasakan sebagai dinamo penggerak kemajuan masyarakat. Lantas, apakah untuk memahami al-Qur’an membutuhkan hermeneutika? Inilah permasalahan yang akan dibahas oleh penulis dalam artikel ini.

Sebelum lebih jauh melangkah, alangkah baiknya jika kita menyatukan opini dan pemahaman kita terhadap hermeneutika. The new Encyclopedia Britannica menulis bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bible (The study of the general principle of biblical interpretation). Adapun tujuan dari Hermeneutika itu sendiri adalah menemukan nilai kebenaran dalam Bible.

Dalam sejarahnya Hermeneutika muncul pada abad petengahan dengan lahirnya seorang tokoh pemikir besar dalam bidang itu, yaitu Thomas Aquinas (1225-1274), karyanya yang menumental berjudul Summa Theologica menekankan pentingnya interpretasi Bible secara litertal.

Pada abad ke-18 (zaman Enlightenment) tokoh pemikir liberal kristen Johan Solomo Semler mengemukakan gagasannya bahwa hermeneutika mencangkup banyak pembahasan seperti retorika, tata bahasa, logika, sejarah, penerjemahan dan kritik terhadap teks. Menurutnya tugas utama hermeneutika adalah memahami teks sebagaimana dimaksudkan oleh para penulis teks itu sendiri, sehingga pemahaman seiring dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para penulis teks.

Jadi pada awalnya hermeneutika dipakai untuk menemukan nilai-nilai kebenaran dalam perjanjian lama (old testament) atau pun perjanjian baru (new testament). Mengapa para Teolog dan agamawan kristen memerlukan hermeneutika dalam mengkaji kitab-kitab mereka? Karena mereka menemukan big problem dalam memahami dan menginterpretasikan serta mencari true value dalam kitab suci mereka. Selama ini masih mucul pertanyaan besar dan belum bisa dijawab dengan pasti. Yaitu, apakah secara harfiah Bible adalah kalam Tuhan, atau perkataan manusia? Aliran yang mengakui bahwa Bible itu adalah kalam Tuhan dan tidak ada unsur perkataan manusia, dianggap terlalu ekstrim, dan bahkan tidak rasional. So what’s fucking hell with that?

Banyak kalangan agamawan yang masih menganggap Bible sebagai kitab yang masih dipertanyakan penciptanya. Seperti Richard Elliot Friedman dalam bukunya “Who wrote the Bible” menyatakan bahwa hingga kini, siapa yang menulis kitab tersebut masih merupakan misteri yang belum terungkap dengan pasti.

Karena Bible memiliki banyak penulis, dan itupun belum pasti kebenarannya. Bahkan terjadi banyak perbedaan dalam tulisan-tulisan itu, serta tidak ada redaksi Bibel yang diakui original, maka menemukan titik temu “kebenaran” dalam Bibel sangat sulit. Prof M. Metzger dalam bukunya “A Textual Commentary on the Greek New Testament” menyatakan bahwa para interpreter Bible menemukan beberapa permasalahan dalam menginterpretasikan Bible diantaranya yaitu: Pertama, tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini. Kedua, bahan yang ada bermacam-macam dan berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Tentunya kondisi tersebut mempersulit kaum intelektual agamawan dalam menelaah Bible dan menemukan nilai kebenaran murni.

Bible sendiri sebenarnya memiliki “sejarah kelam” beberapa abad silam. Para paulus menjual firman Tuhan untuk kepentingan peribadi dan kelompoknya. Bahkan mereka berani membuat “kabur” firman Tuhan dengan deviation interpretation untuk mencapai suatu tujuan. Bahkan demi mempertahankan kandungan Bible, para paulus membungkam mulut para ilmuan dalam mengemukakan penemuan ilmiahnya sehingga melumpuhkan bahkan mematikan perkembangan peradaban di Eropa kala itu.

Salah satu indikasinya dalam konteks ini adalah bahwa otoritas gereja pernah menghakimi ilmuan seperti Gelileo Galilei karena mengekspose teori “Heliocentric” yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Sikap itu diambil untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan gereja yang mempunyai doktrin Infallibility. Segala hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi gereja dianggap sebagai “heresy” (bid’ah) dan dihadapkan ke mahkamah inquisisi.

Problematika seputar Bible dalam konteks kontradiksi dengan sains terjadi pada abad pertengahan (500-1500 M). Zaman ini dikenal sebagai Medieval Europe, masih ada kasus serupa, tetapi dalam sekala yang lebih kecil berlanjut pada zaman pencerahan, orang Eropa menyebut zaman ini dengan zaman Renaissance yang bermakna “kelahiran kembali” (Rebirth). Adapun inti dari zaman Renaissance ini adalah zaman merebaknya paham “sekularisme, humanisme dan liberalisme“ yang berbuntut kepada interpretasi Bible yang disubordinasikan ke dalam paham-paham tersebut. Karena diakui atau tidak, orang-orang Eropa hampir “gila” yang disebabkan pengaruh kekuasaan gereja dalam kehidupan sosial masyarakat. Gereja mengatur segala lini kehidupan masyarakat sehingga freedom “digantung” tak berdaya. Inilah catatan hitam gereja dengan memanfatkan Bible yang dianggap sebagai firman Tuhan.

Nah, dari complete problem tersebut, maka hermeneutika diperlukan untuk “mencari” celah dalam memahami Bible yang telah menjalani lika-liku dan gesekan paradigma kehidupan selama berabad-abad dengan harapan, dapat mengungkap nilai kebenaran murni dari kitab suci itu.

Berbeda dengan Al-Qur’an, yang diakui dan terbukti sebagai karya tuhan yang tidak dimasuki oleh pendapat-pendapat manusia dalam redaksi aslinya. Perjalanan Al-Qur’an dalam sejarahnya, dari Jibril kepada Muhammad kemudian berlanjut kepada para sahabat, Tabiin hingga sampai di tengah-tengah kita, telah tertulis dengan jelas dalam buku-buku Ulum Al-Qur’an karya para ulama turast, tidak ada “korupsi” redaksi yang terjadi. Jelas dalam point ini terdapat perbedaan signifikan antara Al-Qur’an dan Bible.

Menurut hemat para ulama Mutakallimin, paling tidak pemahaman meraka terhadap Al-Qur’an terpusat pada dua point, yaitu: Pertama, bahwa Al-Qur’an adalah perkataaan Tuhan yang paling baik dan mulia dari perkatan yang lainnya. Kedua, bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah, dan kalamullah adalah qadhim dan bukan makhluk. Begitupun para ulama ushul, fiqh, dan lughah ‘arabiyah berpendapat yang sama, hanya saja mereka berbeda pendapat seputar metodologi penurunan ayat-ayat Tuhan hingga sampai di tengah-tengah kita.

Pengetahuan tentang Nuzul Al-Qur’an merupakan asas dalam mengohohkan kepercayaan akan status Al-Qur’an sebagai kalamullah dan juga melegitimasi kepercayaan akan kerasulan Muhammad. Serta membenarkan ajaran yang disebarkannya. Nuzul Al-Qur’an juga masuk ke dalam pokok-pokok pembahasan dalam ulum Al-Qur’an. (untuk lebih jelasnya, baca Manahilul Irfan jilid 1 hal 37)

Al-Qur’an yang menyandang gelar sebagai kitab suci dan sekaligus mukjizat terbesar Rasul ini, mengandung makna yang luas dalam setiap ayatnya. Bahkan jika mengkajinya hingga tujuh keturunanpun, kita masih belum bisa menyingkapkan seluruh true value yang dapat dijadikan sumber kesejahteran manusia. Kalau boleh meminjam istilah Cak Nur, bersifat open ended, artinya selalu terbuka dalam menginterpretasikannya sehingga tidak lapuk dimakan usia dan selalu compatible dalam setiap zaman.

Nah, untuk membumikan dan memanusiakan ayat-ayat Tuhan yang terangkum dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut, tidak diperlukan lagi apa yang disebut hermeneutika. Karena penggunaan hermeneutika kepada Al-Qur’an merupakan penempatan dan penggunaan yang salah. Tafsir dan Ta’wil adalah sarana tepat yang dapat dijadikan “jembatan” dalam merangkai pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an.

Tafsir secara etimologi adalah keterangan dan penguraian. Adapun Tafsir secara terminologi adalah ilmu yang membahas tentang segala hal yang berhubungan dengan Al-Qur’an (makna ayat-ayat Tuhan). Takwil secara etimologi adalah kembali. Adapun secara terminologi, memalingkan lafaz dari maknanya yang dzahir kepada makna yang “mungkin” terkandung atau tersirat di dalamnya. Dengan syarat, jika makna yang “mungkin” itu sesuai dengan (semangat) kitab dan sunnah. Contohnya seperti firman Allah “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati” (al-Anbiya’: 95), apabila yang dimaksudkan disitu adalah mengeluarkan burung dari telur, maka itu disebut tafsir. Tetapi apabila yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah mengeluarkan orang beriman dari orang kafir, atau orang berilmu dari orang yang bodoh, maka itulah takwil.

Dengan status Al-Qur’an yang tidak memiliki sejarah “kelam” dan dengan karya-karya ulama klasik tentang Al-Qur’an, dan ilmu-ilmu yang mendukung dalam menginterpretasikannya, maka kitab suci ini tidak memerlukan hermeneutika dalam mengkajinya. Jika hermeneutika “dipaksakan” untuk menggantikan tafsir dalam menginterpretasikan Al-Qur’an maka besar kemungkinan “kekecewaan” yang diraih karena akan terjadi misi understanding terhadap makna teks-teks tersebut atau muncul “korupsi makna” yang dapat menyesatkan tanpa kita sadari.

Sebagai bahan renungan, saya akan menyampaikan hadits kanjeng nabi Muhammad SAW yang berbunyi: Kamu akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelum kamu, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, sehingga apabila mereka masuk lubang biawak sekalipun, kamu akan mengikutinya juga. Kemudian Rasulullah s.a.w. ditanya: “Apakah mereka [yang diikuti] itu kaum Yahudi dan Nasara?” Rasulullah menjawab: “Siapa lagi [kalau bukan mereka].” (H.R. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)

Semoga kita dapat mengambil sisi “baik” dari budaya dan peradaban barat yang memuncak, tanpa “melupakan” status kita sebagai ummat kanjeng Nabi SAW, hingga kejayaan umat Islam pada masa lalu dapat terwujud kembali. Allahumma ‘aizzal islama wal muslimin.

Oleh: M. Abdurachman.R*

* Mahasiswa Al- Azhar Fak Aqidah Filsafat, anggota KMKM.
Leia Mais...
THAKS FOR U ATTENTION
 
Santri Pesisir © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |