BY: ZAINAL ASLI BUJANG PONTIANAK


SUMATERA EKSPRES L.P.6
0

Tujuan Praktik Sufi

Minggu, 06 Juni 2010.

Tujuan Praktik Sufi

- Praktik sufi bag 5Praktik - praktik yang dilakukan
untuk kemajuan islam
Tujuan utama dari praktik-praktik sufi adalah pemulihan keutuhan diri manusia. Oleh karena itu para syekh sufi memberikan obat yang berbeda-beda kepada para pengikutnya dalam bentuk berbagai jenis praktik dengan intensitas yang berlainan sesuai dengan jenis penyakit yang diobati. Ternyata setiap tarekat sufi mempunyai doa khususnya sendiri, wirid dan zikirnya sendiri, dan upacara serta metode duduk dan berdirinya sendiri. Sebagaimana praktik-praktik yang djlakukan secara kolektif, guru sufi sering memberikan obat khusus bagi individu tertentu, misalnya, apabila salah seseorang muridnya sakit atau membutuhkan pengobatan khusus, seperti periode jaga malam atau bangun malam yang padat. Apa pun perbedaan mereka yang nampak, satu unsur yang umum kita dapati pada semua tarekat ialah hubungan yang mendalam antara syekh sufi dengan muridnya. Hubungan itu didasarkan pada kepercayaan, cinta dan ketaatan kepada si syekh. Dikatakan bahwa pengikut terbaik itu bagaikan kain lap di tangan tukang cuci. Melalui kepasrahan dan ketaatan seperti itulah maka makna ajaran sang guru itu terserap dengan cepat.

Kita dapati pula dalam banyak lingkungan tarekat bahwa karena cinta dan hormat kepada gurunya, para pengikut bahkan meniru kebiasaan lahiriah dan pakaian guru mereka. Namun, kadang-kadang peniruan ini dilakukan secara ekstrem sehingga kehilangan maknanya dan lebih menjadi tiruan lahiriah yang kosong, yang tak ada manfaatnya, ketimbang menjadi tanda kesatuan atas dasar kesamaan satu sama lain.

Suatu contoh dari peniruan ekstrem ini nampak dalam kasus seorang guru yang, karena kondisi giginya yang buruk, kalau makan selalu bunyi mencapak-capak. Para muridnya, tanpa menyelidiki alasan dari kebiasaan itu, dengan bodoh menirunya. Imam Ja'far Shadiq tak pernah menggunakan siwak untuk membersihkan gigi-nya selama tahun-tahun terakhir hidupnya. Beberapa pengikutnya berpikir bahwa ia telah menemukan cara baru untuk memelihara kebersihan gigi tanpa menggunakan siwak, walaupun ini suatu kebiasaan yang disenangi Nabi Muhammad, dan yang ingin ditiru oleh semua pengikutnya. Imam Ja'far mengatakan kepada mereka bahwa giginya telah demikian lemah sehingga apabila ia menggunakan siwak, maka akan lebih rusak. Yang penting ialah hubungan antara guru dan murid, karena dengan begitu keadaan si murid akan terangkat ke keadaan si guru.

Perhatian utama seorang sufi ialah bagaimana terlepas dari hal-hal fana yang menghalangi seseorang dari kemajuan spiritual. Agar seseorang tidak terus dihalangi oleh aspek kehidupan duniawi, ia memerlukan suatu cara untuk mengalihkan pikiran dari memikirkan hal-hal duniawi itu. Berbagai doa, maupun perhatian yang terkonsentrasi yang hanya diarahkan kepada satu asma atau sifat Ilahi tertentu, atau bentuk zikir lainnya yang sesuai, dapat menyempitkan proses pemikiran dan menyalurkan energi. Jelaslah, mengulang-ulang suatu bunyi khusus dapat membantu usaha mencapai pemusatan ke satu titik. Praktik pemusatan ke satu titik itulah yang memungkinkan seseorang untuk tidak begitu terganggu perhatiannya. Pemusatan ke satu titik adalah suatu keadaan yang demikian didambakan oleh manusia sehingga kita dapati banyak kegiatan rekreasi, hobi, olah raga, dan tentu saja semua usaha ilmiah dan penelitian, terpusat padanya. Dengan mengikuti gerakan bola golf, perhatian orang tidak terganggu oleh peristiwa lain di sekitarnya sehingga pikirannya tidak langsung bingung dan ruwet.

Demikian pula, apabila seorang sufi mengulang-ulang kalimat la ilaha illallah, yang berati "tak ada tuhan selain Allah", maka pikirannya secara berangsur-angsur disapu bersih. Komputer pikirannya dibersihkan. Pikiran manusia cocok benar bila dipanggil untuk berurusan dengan hal-hal yang besifat alami, kausal atau eksistensial. Sebab persoalan tersebut sangat kondusif untuk pemikiran rasional atau logis dan harus bebas dari berbagai pertimbangan psikologis atau emosional yang berlebihan, yang cenderung memacetkannya. Jadi, tujuan dari mengingat Allah (zikir) ialah untuk membersihkan pikiran secara psikologis. Yakni membebaskannya dari doktrin serta membersihkan filter-filternya. Ada macam-macam bentuk zikir untuk jenis penyakit, orang, keadaan, waktu, dan kondisi yang berbeda-beda.

Sebagai sarana untuk sampai kepada konsentrasi tunggal, penyebutan sifat-sifat Allah adalah penting. Sifat-sifat seperti ar-Rahman (Penyayang) , ash-Shabur (Sabar) , al-Khaliq (Pencipta) , ar-Razaq (Pemberi Rezeki) , al-Lathif(Maha halus), al-Wadud (Cinta), as-Salam (Damai), dan seterusnya, secara berulang-ulang disebut dan diseru, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan seseorang. Kata Allah yang menunjukkan esensi realitas juga sering disebut-sebut Kedua sifat, Yang Hidup dan Yang Abadi ( al-Hayyu al-Qayyum), bunyinya sangat mirip dengan seruan AUM dalam bahasa Sansakerta ketika disebutkan berbarengan. Tak diragukan bahwa mengalunkan asma dan sifat-sifat Ilahi ini sangat banyak menolong dalam menimbulkan keadaan terpusat dan tenteram pikiran yang didambakan.

praktik-praktik dan zikir ini membantu semua level, tetapi sebaiknya dilakukan oleh guru spiritual. Memungut secara sembarangan dan mengulang-ulang beberapa zikir atau praktik sufi yang pernah dibaca atau didengar, bisa saja mendatangkan efek-efek yang bermanfaat, tetapi tidak bernilai langgeng. Lagi pula tak ada pengganti bagi kearifan dan pengetahuan serta pendampingan dari seorang guro spiritual yang sebenarnya.

Ada cerita tentang seorang kolektor barang antik yang menemukan sebuah naskah kuno dalam bahasa Arab. Di dalamnya terdapat resep untuk mengobati berbagai penyakit lever. di antara petunjuknya menyatakan bahwa seekor ular hitam harus digiling dan dicampur dengan ramuan-ramuan lainnya. Maka si kolektor barang antik itu mencari ular hitam, meracik obatnya, lalu menunggu orang kaya yang menderita penyakit hati. Ketika seorang pangeran muda terkena hepatitis, dokter yang mengangkat diri sendiri itu segera ke istana raja dengan ramuan rahasianya. Dalam satu hari pangeran itu mati dan si kolektor barang antik pun dipenjarakan seumur hidup.

Bagi orang awam, kata ular dan benih dalam bahasa Arab nampak sama, karena tertulis hampir secara identik kecuali tidak adanya satu titik. yang sangat penting adalah bahwa resep itu harus datang dari orang yang tepat Guru spiritual yang sejati, apabila ia baik, ikhlas dan dalam ketundukan, akan memberikan kepada muridnya obat yang spesifik dengan cara yang spesifik. Kira-kira seperti menginstruksikan kepada seseorang tentang di mana mendapatkan harta terpendam. Pengarahan yang tepat dan jumlah langkah yang tepat yang harus dilakukan mutlak harus diikuti; kalau tidak maka pencari yang penuh gairah tetapi sembrono mungkin memutuskan untuk menambah sendiri beberapa langkah dan sama sekali gagal mendapatkan harta itu.

Pendekatan yang sama berlaku pada instruksi-instruksi yang diberikan oleh guru spiritual mengenai berbagai bentuk zikir, salat, dan doa. Adakalanya, kita mendapat resep spiritual dari orang yang tak memenuhi syarat dan percaya takhayul dengan maksud baik, tetapi hasilnya tidak efektif atau hanya berlangsung sementara.

Tetapi, tak diragukan bahwa setiap meditasi atau pujian kepada Tuhan dan zikir itu secara spiritual bermanfaat Kira-kira seperti meminum tonikum umum yang menolong setiap orang, apa pun keluhannya. Namun, dalam hal penyakit yang akut atau khronis, tonikum hanya membawa kelegaan sementara dan terbatas, dan pelayanan seorang dokter yang cakap diperlukan. Berbagai bentuk zikrullah dari setiap tarekat sufi adalah bermanfaat. Setiap zikir yang datang dari guru spiritual sejati membawa manfaat, sekalipun tidak diresepkan khusus bagi orang yang melakukannya, tetapi bilamana suatu bentuk zikrullah diresepkan oleh guru rohani secara individual, dan disalurkan dari hati ke hati, maka suatu langkah efektif ke arah kebebasan telah ditempuh. back
Leia Mais...
0

Wajah Setenang Telaga


Wajah Setenang Telaga
Penulis : Rudy Harahap

Siapa yang tak mengidamkan tubuh seperti Jennifer Lopez? Setiap perempuan, agaknya, diam-diam menyimpan keinginan memiliki tubuh seindah J-lo ataupun selebritis rupawan lainnya. J-lo pun menjadi icon kecantikan.

Cantik laiknya identik dengan perempuan. Tak mengherankan, perempuan sejak dahulu hingga kini, tanpa mengenal ras berusaha menjaga penampilan. Cleopatra, misalkan, tak sekadar menjaga kecantikannya, juga memanfaatkannya untuk kekuasaan.

Belakangan, tak hanya perempuan, kaum pria pun berdandan demi penampilan. Agar kelihatan cantik dan tampan, keturunan Adam dan Hawa, menyinggahi salon kecantikan. Mereka memotong rambut dengan gaya terkini, merawat wajah agar segar, dan memancarkan aura kecantikan. Tak jarang, mereka mandi susu, agar kulit tubuh seputih pualam. Orang-orang seperti Kris Dayanti rela menghamburkan uangnya demi kecantikan.

Tak sekadar merawat tubuh, bahkan, Michael Jackson bersedia berkali-kali dioperasi: memancungkan hidung, melancipkan dagu, bahkan, memutihkan kulitnya yang hitam. Jackson menjadi fenomena -- ataukah tepatnya phobia atas kejelekan fisik -- memburu kerupawanan. Ia, sekaligus, menjadi sosok yang tersohor enggan menerima takdir atas tubuhnya. Pasangannya adalah Madonna yang memuja penampilan fisiknya sendiri.

Demi melengkapi kerupawanannya, mereka pun mengenakan pakaian berkelas dan modis. Industri kecantikan, rumah-rumah mode hadir untuk mendukung penampilan rupawan, necis, dan wangi. Semua demi menjaga penampilan, agar individu lain yang menyaksikan terpesona. Lirikan mata, decak kagum justru kian membusungkan dada lantaran semua itu merupakan bentuk pengakuan atas keanggunan penampilan.

Tapi, apa makna semua itu? Di saat kita semakin mengidamkan untuk menjadi Jo-lo atau KD, kita kian alpa makna dan hakikat tubuh. Tubuh, bagi pejalan ruhani, sejatinya hanya sangkutan bagi ruh. Ia tak ubahnya kapstock. Kendati disepuh emas sekalipun, nilai kapstock tak lebih sebagai sangkutan. Nilai utama bertumpu pada yang disangkutkan.

Bila demikian, patutkah kita berperilaku seperti Michael Jackson ataupun Madonna? Kita tentu tidak salah bila menjaga penampilan, bersih dan indah, karena sejatinya Islam adalah kebersihan dan keindahan. Bahkan, Allah pun menyuruh hamba-hamba-Nya mengenakan pakaian yang bagus untuk beribadah. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) mesjid... (QS. 7:31) .

Namun, bila untuk mendapatkan keindahan dengan mengubah bentuk tubuh, tentu bukan perbuatan yang disukai-Nya. Terkecuali karena sakit atau cacat, tubuh merupakan karunia yang diberikan-Nya, kelak menuntut pertanggungjawaban. Dengan demikian, bagaimana bentuk pertanggungjawaban, jika kita mengubah ciptaan-Nya hanya karena misalkan ingin agar hidung lebih mancung? Kelak, di hari setiap perbuatan menuntut pertanggungjawaban, dapatkah Anda membayangkan bila hidung yang semula pesek menuntut pertanggungjawaban lantaran dimancungkan?

Kita memang seringkali merasa rendah diri ketika tubuh (penampilan) buruk. Kita merasa malu pada pemberian-Nya dan berusaha mengubahnya. Di saat meniru perilaku selebritis seperti Michael Jackson maupun selebritis di dalam negeri, sesungguhnya kita telah menentang sifat Allah Yang Memelihara (Al Mu'minu). Sebaliknya, ketika cantik dan tampan, kita merasa bangga. Ironisnya, di saat seribu mata melirik, kita alpa kecantikan dan ketampanan itu milik Allah. Kita, bahkan, merasa "akulah pusat dunia" (lomba ratu kecantikan sejatinya mengukuhkan hal tersebut).

Tapi, wahai pemuja kecantikan, sadarkah bila kecantikanmu dapat menggelincirkanmu pada riya? Perempuan-perempuan cantik seperti Cleopatra yang sangat sadar atas kecantikannya -- sehingga memamerkan, bahkan, memanfaatkannya --- seringkali menjadi sumber bencana. Tak mengherankan jika Allah menyuruh perempuan menyembunyikan perhiasannya di balik jilbab demi menghindarkan gangguan. Hendaklah mereka mengulurkan jilbab...(QS 33:59).

Kecantikan, pakaian berkelas dan indah, bersifat fana. Ia sekadar perhiasan duniawi yang lekang ditempa masa. Perjalanan waktu membuat kulit yang kencang dan mulus menjadi keriput. Betul, operasi kosmetik dapat mengakalinya. Tapi, sejatinya, siapa yang dapat menahan laju waktu? Operasi kosmetik hanya bersifat semu, sekadar melahirkan cemooh: Neli alias nenek lincah. Seperti operasi kosmetik, julukan itu bersifat semu: di permukaan laiknya pujian tetapi sesungguhnya gurau ironis karena kita berusaha melawan kodrat waktu.

Bila demikian, wahai pemuja kecantikan, mengapa masih mengagungkan kecantikan fisik dan pakaian berkelas? Di saat insyaf atas kefanaan dan permainan sang waktu, mulailah mencari kecantikan dan keindahan (pakaian) abadi. Bagaimanakah gerangan kecantikan dan keindahan (pakaian) abadi? Pejalan ruhani mengandaikan amalan merupakan pakaian dan keindahan yang kekal. Amal ibadah insan di bumi ini, sejatinya bukan sekadar kewajiban dan menuruti perintah-Nya, tetapi kelak menjadi pakaian di akhirat.

Seseorang boleh saja bangga karena ia sepekan sekali mandi susu dan mengenakan pakaian berkelas. Tapi, dapatkah Gucci, Vercace dan deretan merek yang berkelas melindungi diri di saat hari perhitungan. Amalan baik berupa zikir, wirid dan kebajikan selama hayat di badan justru yang menjadi pakaian menahan sengatan, ketika matahari tak lebih sejengkal dari kepala. Amalan-amalan itu justru yang menghiasi diri ketika di alam kubur (barzah).

Amalan-amalan itu, bahkan, sesungguhnya telah menghiasi sejak di bumi. Tak percaya? Lihatlah wajah-wajah berwudhu --- wajah yang mengutip pengetahuan modern mengalami terapi air --- senantiasa segar. Wudhu merupakan awal dari rangkaian ibadah sepanjang hari. Zikir dan peribadatan itu bermuara pada ketenangan jiwa. Ketenangan jiwa itu memancar pada wajah, mengurangi beban penderitaan pada tubuh. Nur ilahiyah menghiasi wajahnya. Pengetahuan modern menyebutnya inner beauty. Dengan wajah setenang telaga itu pula ia kembali pada-Nya. Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.. (QS 30:27-28)
Leia Mais...
0

Tarekat-tarekat Sufi


Tarekat-tarekat Sufi

Tarekat sufi atau kelompok-kelompok sufi berkembang
secara bertahap dan tidak secara langsung
Di abad-abad awal Islam, kaum sufi tidak terorganisasi dalam lingkungan-lingkungan khusus atau tarekat. Namun, dalam perjalanan waktu, ajaran dan teladan pribadi kaum sufi yang menjalani kehidupan menurut aturan-aturan yang telah ditetapkan agama mulai banyak menarik kelompok manusia. Di antara abad kesembilan dan kesebelas, mulai muncul berbagai tarekat sufi, yang meliputi para ahli dari segala lapisan masyarakat. Ketika tarekat sufi, atau persaudaraan sufi ini muncul, pusat kegiatan sufi bukan lagi di rumah-rumah pribadi, sekolah atau tempat kerja sang pemimpin spiritual. Selain itu, struktur yang lebih bersifat kelembagaan pun diberikan pada pertemuan-pertemuan mereka, dan tarekat-tarekat sufi mulai menggunakan pusat-pusat yang sudah ada khusus untuk pertemuan-pertemuan ini. Pusat pertemuan kaum sufi biasanya disebut Khaneqah atau Zawiyya. Orang Turki menamakan tempat perlindungan orang sufi sebagai Tekke. Di Afrika Utara tempat semacam itu disebut Ribat, nama yang juga digunakan untuk menggambarkan kubu atau benteng tentara sufi yang membela jalan Islam dan berjuang melawan orang-orang yang hendak menghancurkannya. Di anak-benua India, pusat sufi disebut Jama'at Khana atau Khaneqah.

Sama halnya dengan berbagai mazhab hukum Islam, yang muncul pada abad-abad awal setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, dimaksudkan untuk menegaskan suatu jalan yang jelas untuk penerapan hukum tersebut, demikian pula tarekat-tarekat sufi yang muncul dalam periode yang sama bermaksud menegaskan jalan yang sederhana bagi praktik penyucian batin. Sebagaimana banyak mazhab hukum Islam (fiqh) tidak lagi dipropagandakan sehingga berakhir, demikian pula banyak tarekat besar menghadapi situasi yang serupa. Di abad kesembilan terdapat lebih dari tiga puluh mazhab fiqh Islam, tetapi kemudian jumlah tersebut berkurang hingga lima atau enam saja. Di abad ke-12 Anda tak dapat menghitung jumlah tarekat sufi, antara lain karena banyaknya, dan karena tarekat-tarekat itu belum ditegaskan sebagai tarekat. Sebagian besar syekh dan guru spiritual dalam tarekat sufi dan mazhab hukum tidak mengharapkan ajaran mereka akan diberikan penafsiran yang terbatas dan sering kaku pada masa setelah kematian mereka, atau bahwa tarekat sufi dan mazhab hukum dinamai dengan nama mereka. Namun, terpeliharanya tarekat-tarekat sufi sebagian sering merupakan akibat dari pengasingan diri (uzlah) secara fisik dan arah yang diambil oleh kecenderungan Islam.

Suatu kecenderungan yang nampak pada tarekat-tarekat sufi ialah bahwa banyak diantaranya telah saling bercampur, sering saling memperkuat dan kadang saling melemahkan. Kebanyakan tarekat sufi memelihara catatan tentang silsilahnya, yakni rantai penyampaian pengetahuan dari syekh ke syekh, yang sering tertelusuri sampai kepada salah satu Imam Syi'ah dan karenanya kembali melalui Imam 'Ali ke Nabi Muhammad SAW, sebagai bukti keotentikan dan wewenangnya. Satu-satunya kekecualian adalah tarekat Naqsyabandiyah yang silsilah penyampaiannya melalui Abu Bakar, khalifah pertama di Madinah, ke Nabi Muhammad SAW.

Berikut ini adalah beberapa tarekat sufi yang masih ada hingga kini, masing-masing dengan ciri-cirinya yang menonjol. Para pencari pengetahuan mungkin menjadi anggota dari satu atau beberapa tarekat, karena memang mereka sering mengikuti lebih dari seorang syekh sufi. Yang berikut ini hanya contoh dari beberapa tarekat sufi yang secara pribadi telah akrab dengan penulis.

Tarekat Qadiriyah

Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syekh 'Abdul Qadir al-Jailani (m. 1166) dari Gilan di Iran, yang kemudian bermukim di Baghdad, Irak. Setelah wafatnya, tarekatnya disebarkan oleh putra-putranya. Tarekat Qadiriyah telah menyebar ke banyak tempat, termasuk Suriah, Turki, beberapa bagian Afrika seperti Kamerun, Kongo, Mauritania dan Tanzania, dan di wilayah Kaukasus, Chechnya dan Ferghana di Asia Tengah, serta di tempat- tempat lain.

Tarekat Rifa'iyah

Didirikan oleh Syekh Ahmad ar-Rifa'i (m. 1182) di Basra, tarekat Rifa'i telah menyebar ke Mesir, Suriah, Anatolia di Turki, Eropa Timur dan wilayah Kaukasus, dan akhir-akhir ini di Amerika Utara.

Tarekat Syadziliyah

Tarekat Syadzili terealisasi di sekitar Syekh Abul Hasan asy-Syadzili dari Maroko (m. 1258) dan akhirnya menjadi salah satu tarekat terbesar yang mempunyai pengikut yang luar biasa banyaknya. Sekarang tarekat ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya dan Tanzania, Timur Tengah, Sri Langka dan di tempat-tempat lain, termasuk di Amerika Barat dan Utara.

Tarekat Maulawiyah

Tarekat Maulawiyah berpusat di sekitar Maulana Jalaluddin Rumi dari Qonya di Turki (m. 1273). Sekarang kebanyakan terdapat di Anatolia di Turki, dan pada akhir-akhir ini di Amerika Utara. Para pengikut tarekat ini juga dikenal sebagai para darwis yang berputar-putar.

Tarekat Naqsyabandiyah

Tarekat Naqsyabandiyah mengambil nama dari Syekh Baha'uddin Naqsyaband dari Bukhara (m. 1390). Tarekat ini tersebar luas di wilayah Asia Tengah, Volga dan Kaukasus, Cina bagian baratlaut dan baratdaya, Indonesia, di anak-benua India, Turki, Eropa dan Amerika Utara. Ini adalah satu-satunya tarekat terkenal yang silsilah penyampaian ilmunya kembali melalui penguasa Muslim pertama, Abu Bakar, tidak seperti tarekat-tarekat sufi terkenal lainnya yang asalnya kembali kepada salah satu imam Syi'ah, dan dengan demikian melalui Imam 'Ali, sampai Nabi Muhammad SAW.

Tarekat Bektasyiyah

Tarekat Bektasyiyah didirikan oleh Haji Bektasy dari Khurasan (m. 1338). Gagasan Syi'ah merembes masuk dengan kuatnya pada tarekat sufi ini. Tarekat ini terbatas di Anatolia, Turki, dan yang paling berpengaruh hingga awal abad ke-20. Tarekat ini dipandang sebagai pengikut Mazhab Syi'ah.

Tarekat Ni'matullah

Tarekat Ni'matullah didirikan oleh Syekh Nuruddin Muhammad Ni'matullah (m. 1431) di Mahan dekat Kirman baratdaya Iran. Para pengikutnya terutama terdapat di Iran dan India.

Tarekat Tijaniyah

Tarekat Tijani didirikan oleh Syekh Abbas Ahmad ibn at-Tijani, orang Berber Aljazair (rn. 1815). Tarekat ini telah menyebar dari Aljazair ke selatan Sahara dan masuk ke Sudan bagian barat dan tengah, Mesir, Senegal, Afrika Barat dan bagian utara Nigeria, dan telah diperkenalkan di Amerika Barat dan Utara.

Tarekat Jarrahiyah

Tarekat Jarrahi didirikan oleh Syekh Nuruddin Muhammad al-Jarrah dari Istambul (m. 1720). Tarekat ini terutama terbatas di Turki, dengan beberapa cabang di Amerika Barat dan Utara.

Tarekat Chistiyah

Tarekat yang paling berpengaruh di anak-benua India-Pakistan adalah tarekat Chisti, yang dinamai dengan nama pendirinya Khwaja Abu Ishaq Syami Chisti (m. 966). Penyebarannya terutama di Asia Tenggara.

Tarekat-tarekat sufi, sebagaimana gerakan-gerakan lainnya, cenderung bersiklus. Siklus suatu tarekat sufi biasanya antara dua sampai tiga ratus tahun sebelum melemah dan merosot. Bilamana muncul suatu kebutuhan terhadap suatu tarekat sufi maka tarekat tersebut mulai bangkit, kemudian mencapai klimaksnya, lalu berangsur-angsur berkurang dan bubar.

Satu kecenderungan yang dapat diamati dalam sejarah tasawuf ialah bahwa bilamana terdapat kekurangan dalam materi sumber Islam, seperti Al-Qur'an atau sunnah Nabi Muhammad SAW, dalam suatu tarekat sufi, maka ia cenderung didominasi oleh kultur yang lebih kuat dan tua dari lingkungannya. Percampuran ini dapat dilihat pada tarekat Chistiyah di Asia Tenggara dan pada tarekat-tarekat sufi di Indonesia yang telah menyerap banyak unsur adat Hindu dan Buddha ke dalam praktik-praktiknya. Demikian pula, tarekat-tarekat sufi Afrika di bawah wilayah Sudan telah memadukan beberapa adat keagamaan suku-suku Afrika ke dalam praktik-praktik mereka. Nampaknya di kawasan-kawasan terpencil itu semua tarekat sufi telah mengambil warna kultus. Leia Mais...
0

Tasawuf sebagai Mazhab Cinta


Tasawuf sebagai Mazhab Cinta

Oleh Syamsu Dharma

Menurut kisah, Hasan Al-Bashri sahabat karib Rabi'ah (meskipun dikisahkan meninggal lebih dari tujuh puluh tahun sebelum kematian Rabi'ah ), mendesak Rabi'ah agar segera menikah, dan begitu juga yang lainnya. Mereka mendesak agar memilih sesama sahabat sufi di kota itu.

Atas desakan kuat itu Rabi'ah mengatakan, "Baiklah, aku akan menikah dengan seseorang yang paling pintar diantara kalian semua". Mereka mengatakan, "Hasan Al-Bashri itulah orangnya." Lantas Rabi'ah berkata kepadanya, "Jika engkau dapat menjawab empat pertanyaanku, aku bersedia menjadi istrimu." Hasan Al-Bashri berkata, "Bertanyalah dan jika Allah mengijinkan, aku akan menjawab pertanyaanmu."
Pertanyaan pertama, "Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?" Hasan menjawab, "Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab."

Lalu ia mengajukan pertanyaan kedua, "Pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?" Hasan juga menjawab, "Hanya Allah Yang Tahu."
Lalu Rabi'ah memberikan pertanyaan selanjutnya, "Pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan nanti semua kan menerima buku di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerimanya di tangan kanan atau tangan kiriku?" Maka Hasan hanya dapat menjawab, "Hanyalah Allah Yang Maha Mengetahui."
Akhirnya Rabi'ah mengajukan pertanyaan terakhir, "Pada saat hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk Surga (Jannah) dan sebagian kelompok lain akan masuk ke Neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?" Hasan juga menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu.

Selanjutnya Rabi'ah mengatakan kepada Hasan ,"Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaimana aku harus bersuami yang kepadanya dan aku harus menghabiskan waktuku dengannya? Sedangkan dengan empat pertanyaanku saja dia tidak bisa menjawab."
Mendengar jawaban itu maka pergilah Hasan meninggalkan Rabi'ah menempuh jalan sendiri-sendiri. Sebagaimana kebanyakan cerita di dunia tasawuf, kita tak tahu bagaimana Hasan bisa bertemu dengan Rabi'ah. Yang jelas riwayat dialog di atas sebenarnya mencerminkan dua konsep tasawuf pada masa awal perkembangannya yang dilakoni oleh tokohnya masing-masing.

Rabi'ah al-Adawiyah misalnya adalah seorang wanita sufi yang pertama kali menitikberatkan unsur cinta "Hub" di dalam tasawuf bahkan menggarisbawahinya. Rabi'ah pernah berkata: "Uhibbuka hubbain", aku mencintai Engkau karena dua kecintaan. Satu kecintaan karena nafsu, dan kedua karena Engkau layak menerima cintaku."

Sebagaimana mazhab fiqih, juga ada banyak ajaran dan doktrin tasawuf yang berkembang, tapi makhluk semacam apakah tasawuf itu? Tak ada kata yang paling sering disalahpahami selain tasawuf. Baik oleh pembenci maupun pengamalnya. Tasawuf dibenci disamping karena tidak dipahami juga dianggap sebagai anti sains, anti kemajuan. Sebagian orang malah berujar jika tasawuf datang, kemajuan akan hengkang. Memang, ada banyak definisi tentang tasawuf. Suhrawardi mengatakan, "Qawl (pendapat) para guru tasawuf tentang apa itu tasawuf lebih dari seribu banyaknya." Walaupun begitu banyak Suhrawardi menyebut beberapa definisi Tasawuf dari tokok-tokoh kenamaan dalam dunia tasawuf. Abu Sa'id al-Kharraz (268 H) berkata, "Sufi adalah orang yang telah Allah bersihkan hatinya. Kemudian hatinya dipenuhi cahaya. Ia masuk dalam hakikat kenikmatan dengan berzikir kepada Allah." Berkata Abdul Qadir Kilani: "Orang membersihkan lahir batinnya dengan mengikuti kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya saw. Secara tidak langsung Basyar al-Hafi mengartikan tasawuf sebagai mengikuti sunnah Rasul, berkhidmat kepada orang-orang saleh, memberi nasihat kepada saudara seagama, mencintai sahabat dan ahlil bait Nabi. Tanpa penjelasan, definisi-definisi ini tidak bermanfaat apa-apa. Pada umumnya orang keliru memahami pengertian tasawuf dengan zuhud dan ibadah; sufi dengan zahid dan 'abid.

Tasawuf sebenarnya adalah tahapan lebih lanjut dari ibadah dan zuhud. Orang menjadi sufi apabila ia meninggalkan ibadah yang egoistik menuju ibadah yang semata-mata berdasarkan cinta. Kecintaan telah dan selalu menjadi landasan berpikir dan beramal kaum sufi, malah dalam pandangan kaum sufi seluruh fenomena dan kejadian alam semesta ini tercipta karena limpahan cahaya cinta "Ilahi".

Seorang sufi beribadah karena Dia berhak diibadahi, kaum sufi menyembah Allah karena cinta. Dalam pengertian inilah Imam Ali kw. berkata,"Ada kaum yang menyembah Allah karena menginginkan pahala, itulah ibadah pedagang. Ada kaum yang menyembah Allah karena takut akan siksa-Nya, itulah ibadah para hamba sahaya. Ada kaum yang menyembah Allah karena syukur kepada-Nya, itulah manusia merdeka."
Sayyidina Ali kw. benar, tanpa kemerdekaan seorang tidak mungkin mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhannya. Tiada rasa syukur tanpa kecintaan yang dalam. Lalu bagaimana sebaiknya kita mengenal ajaran agama ? Dimana letak tasawuf dalam keberagamaan kita ?

Kebanyakan kita mengenal ajaran agama dengan hukum-hukumnya yang menakutkan. Tapi dengan tasawuf yang dikenalkan adalah mazhab cinta. Yang Maha Dicintai selalu memberi cinta-Nya yang tak terbatas dan tak pernah memberi kekecewaan. Mengapa kita kita tidak mau "bercinta" dengan Tuhan, agar yang selalu keluar dari kita juga rasa cinta, rasa syukur dan kebaikan.

Sebagai akhir dari tulisan sederhana ini, ada sepotong cerita indah yang melukiskan tentang kebersamaan 'Aisyah bersama Rasulullah saw. dalam menunjukkan realitas puncak kecintaan seorang hamba akan rasa cinta dan syukur kepada Tuhan-Nya (Tafsir Ibn Katsir, 1:441): Pada suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, dia berkata, "Ya 'A'isyah, izinkanlah aku beribadat kepada Tuhanku." Aku berkata, "Aku sesungguhnya senang merapat denganmu; tetapi aku juga senang melihatmu beribadat kepada Tuhanmu." Dia bangkit mengambil gharaba air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis. Kemudian dia duduk membaca Al-quran, juga sambil menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya. Ketika dia berbaring , air mata mengalir lewat pipinya membasahi bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat Nabi saw. Menangis, "Mengapa Anda menangis padahal Allah telah ampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang kemudian? Tanya Bilal. "Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur."

Wallahu a'lam
Leia Mais...
THAKS FOR U ATTENTION
 
Santri Pesisir © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |