BY: ZAINAL ASLI BUJANG PONTIANAK


SUMATERA EKSPRES L.P.6
0

surah annazi'a dalam tafsier ibnu katsier

Jumat, 03 September 2010.

SURAH AN-NAZI'AT DALAM TAFSIER IBNU KATSIER
(Oleh : Rahmayani Anya)
1. Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا 1
2. dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا 2
3. dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا 3
4. dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا 4
5. dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا 5
6. (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ 6
7. tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ 7
8. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ 8
9. pandangannya tunduk. أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ 9
10. (Orang-orang kafir) berkata: "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ 10
11. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?" أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً 11
12. Mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan". قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ 12
13. Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ 13
14. maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ 14

1. Tafsier dari ayat 1-14
"Demi yang mencabut dengan keras" maksudnya ketika para malaikat ketika mereka mencabut nyawa orang-orang kafir dari keturunan abam yang ditenggelamkan dalam api neraka. "Dan yang mencabut dengan lemah lembut," yaitu ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang beriman dengan penuh kelembutan, seolah-olah dilepaskan dengan kelembutan hati. "Dan yang turun dari langit dengan cepat dan yang mendahului dengan kencang," yaitu para malaikat mendahului orang yang beriman masuk kesurga. "Dan yang mengatur urusan" yaitu para malaikat yang mengatur urusan dengan izin Allah SWT dari langit menuju bumi.
Allah swt berfirman, "pada hari ketika tiupan pertama mengoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi dengan tiupan kedua. "Ibnu abbas mangatkan "Ar-rajifahdan dan ar-radifah ini adalah tiupan yang pertama dan tiupan yang kedua. "diterima dari mujahid yang berkata,"adapu tiupan yang perama sebagaimana yang tercantum dalam firman allah swt, 'pada hari ketika tiupan pertama mengoncangkan alam.'" Adapun yang kedua adalah ar-radiefah maka ayat ini seperti firman-Nya, "Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dengan sekali benturan." (Al-Haqqah).
Seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh tarmidzi dan ibnu abi hatim, yang artinya "apabila rasullah saw melewati sepertiga malam terakhir, maka beliau berdiri dan berkata, "hai umat manusia, ingatlahallah kerena telah datang tiupan pertama dan diiringi denga tiupan kedua. Kematian telah datang dengan suasananya. (Hr. Tarmidzi dan Ibnu Abi Hatim)
Allah swt berfirman "hati manusia pada saat itu sangat takut, pandangan tunduk,'" yaitu pandangan-pandangan manusia ketika itu menunduk dan merendah karena kengerian suasana kiamat yang mereka saksikan. Selanjutnya-Nya Allah SWT berfirman, "apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan pada kehidupan yang semula?" yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah orang-orang musyrik quraisy dan orang-orang yang berkata seperti mereka, untuk menunjukkan pengingkaran mereka terhadap hari berbangkit, setelah jasad-jasad mereka hancur dan tulang belulang mereka berserakan didalam kubur. "apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat'?" mereka berkata, kalau demikian itu adalah salah satu pengembalian yang sangat merugikan." Maksudnya orang-orang quraisy mengatakan, "bila benar jika kami akan dihidup kankembali oleh allah setelah kematian, maka kami pasti akan merugi. "Allah SWT berfirman, "sesungguhnya pengembalain itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi." Yaitu, sesungguhnya hari kebangkitan itu hanyalah satu kali perintah dari allah swt saja, yang diperintahkan kepada malaikat israfil untuk meniupkan sangkakala tertanda hari berbangkit telah tiba.
Adapun Firman Allah SWT, "maka dengan serta merta mereka hidup kembali dipermukaan bumi." Mengenai pengertian as-shahirah ini para ulama tafsier barlainan pendapat, namun pendapat yang benar mengartikannya sebagai bumi dan permukaannya yang diatas, sebagaimana yang telah dikatakan oleh mujahid, "ketika itu mereka ada di permukaan bumi, kemudian dikelurkan keatas permukaan bumi."

15. Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى 15
16. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa; إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِي الْمُقَدَّسِ طُوًى 16
17. "Pergilah kamu kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى 17
18. dan katakanlah (kepada Firaun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى 18
19. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى 19
20. Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. فَأَرَاهُ الآيَةَ الْكُبْرَى 20
21. Tetapi Firaun mendustakan dan mendurhakai. فَكَذَّبَ وَعَصَى 21
22. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى 22
23. Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. فَحَشَرَ فَنَادَى 23
24. (Seraya) berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi". فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأعْلَى 24
25. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الآخِرَةِ وَالأولَى 25
26. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى 26

2. Tafsier Ayat ke 15-26
Allah SWT berfirman, " Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" yaitu apakah kamu sudah mendengar berita tentang dia "tatkala tuhannya memanggil dia di lembah suci ialah lembah thuwa'?" thuwa itu menurut pendapat yang paling benar adalah nama subuah lembah, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah thaha. "pergilah kamu kepada fir'aun sesungguhnya dia telah melampaui batas," yaitu sombong, takabur, bertindak sewenang-wenang, dan malampaui batas. "dan katakanlah adakah dirimu mempunyai keinginan untuk membersihkan diri, yaitu maukah dirimu diajak kepada suatu jalan yang akan membersihkan kamu, artinya, kamu tunduk dan taat, "dan kamu akan ku pimpin kejalan tuhanmu, "yaitu aku pimpin kamu untuk beribadah kepada allah agar engkau takut kepada allah swt, sehingga hati khusyu setelah sebelumnya keras dan berada jauh dari kebenaran. "lalu musa memperlijatkan kepadanya mu'zizat yang besar. "yaitu, musa memperlihatkan kepada fir'aun, disamping mendakwahinya, hujjah yang sangat kuat dan bukti yang sangat erat dan membenarkan risalah yang dia bawa dari sisi Allah.
Allah swt berfirman, "tetapi fir'aun menduskan dan mendurhakainya. "yaitu, hatinya malah kufur shingga dia tidak mau tunduk kepada musa secara lahir dan batin. Mengetahui kebenaran ternyata tidak selamanya mengantarkan kepada keimanan karena maghfirah itu adalah pengetahuan hati dan iman adalah pengamalannya, yaitu tunduk dan pasrah kepada kebenaran.
Allah ta'ala berfirman, "kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang. "guna menandingi kebenaran dengan kebatilan, dia pun mengumpulkan tukang-tukang sihir, untuk mengimbangi mu'zizat luar biasa yang dibawa oleh nabi musa a.s. "maka dia mengumpulkan lalu berseru memanggil kaumnya, "akulah tuhanmu yang paling tinggi". ucapan ini dilotarkan oleh fir'aun setelah dia mengatkan, "aku tidak pernah mengetahui ada tuhan lain selain diriku" empat puluh tahun sebelumnya.
Allah swt berfirman, "maka allah mengazabnya dengan azab diakherat dan azab di dunia." Yaitu, allah memberikan hukuman kepadanya dengan menenggelamkannya ketika di dunia dan memasukkannya kedalam siksa yang sangat besar di akherat nanti. "sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut." Yaitu, bagi orang yang pandai mengambil pelajaran dan tercegah dari mengambil kemaksiatan.

27. Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا 27
28. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا 28
29. dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا 29
30. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا 30
31. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا 31
32. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا 32
33. (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ 33

3. Tafsier Ayat 27-33
Allah ta'ala mengemukakan hujjah kepada para pengingkar hari berbangkit, yaitu perihal mengembalikan mahkluk setelah ia tiada. "apakah kamu," hai umat manusia," yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?" maksunya, justru langitlah yang lebih hebat penciptaanya dari pada kamu. Adapaun firman Allah ta'ala," allah telah membangunnya," ditafseirkan dengan firman allah ta'ala yang selanjutnya," ia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakan-Nya." Yaitu allah telah menjadikannya sebagai bangunan yang amat tinggi dan jauh dari daratan dan seluruh penjurunya seimbang ditaburi dengan bintang-bintang ditengah malam.
Allah ta'ala berfirman, "dan dia menjadiakan malamnya galap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumis sesudah itu dihamparkannya." Kemudian ayat ini ditafsierkan dengan firmannya kemudian," dia mengeluarkan darinya mata airnya dan tumbuh-tumbuhannya."
Telah diuaraikan penjelasan mengenai hal ini dalam surah as-sajadah bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi bumi baru dihamparkan setelah penciptaan langit sempurna, artinya dia telah mengelurakan segala sesuatu yang terkandung didalamnuya dengan kekutan menuju kenyataan. Allah Ta'ala berfirman," dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh," yaitu dikokohkan ditempatnya masing-masing. Diriwayakan oleh Imam Ahmad dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda yang artinya "setelah allah mencipatakan bumi, bumi itu doyong, kemudian allah menciptakan gunung lalu ditancapkan di atanya, lalu tegaklah bumi."
Allah ta'ala berfirman," untuk kesengan dan untuk binatang-binatang ternakmu." Yaitu, allah membentangkan bumi kemudian mengeluarkan mata airnya dan menumbuhkan kandungan-kandungan, lalu mengalirkan sungai-sungainya dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan da buah-buahannya serta menancapkan gunugn-gunungnya agar penghuninya dapat menetap dengan tenang. Semuanya itu merupakan kenikmatan dari allah ta'ala bagi para hambanya dan bagi kepentinganmereka, seperti kepantingan terhadap binatang ternak untuk pangan dan kendaraan didunia sampai kehidupan berhanti dan ajal tiba.

34. Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى 34
35. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ مَا سَعَى 35
36. dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى 36
37. Adapun orang yang melampaui batas, فَأَمَّا مَنْ طَغَى 37
38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا 38
39. maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى 39
40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى 40
41. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى 41
42. (Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?. يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا 42
43. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا 43
44. Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا 44
45. Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا 45
46. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا 46
4. Tafsier Surah ke 34-46
Allah swt berfirman," maka apabila maka petaka yang sangat besar telah datang," maksudnya adalah hari kiamat," pada hari manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya," artinya pada saat itu anak cucu adam akan ingat terhadap semua amal perbuatannya, yang baik dan yang buruk. " Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihatnya," yaitu neraka jahim akan diperlihatkan bagi mereka yang ingin melihatnya, maka umat manusiapun melihatnya dengan mata telanjang. "adapun orang yang melampaui batas," congkak dan bertindak sewenang-wenang," dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," dari pada kepentingan agamanya dan kehidupan akheratnya, "maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal-(nya)." Yaitu, sesungguhnya dia sedang berjalan manuju neraka jahim dan makanannya adalah pohon Zaqqum, sedangkan minumannya adalah air yang sangat panas. "dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," yaitu adalah orang-orang yang sangat takut saat berdiri dihadapan Tuhannya yang maha perkasa lagi mulia serta tidak mengikutin hawa nafsunya dan menuntunnya dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala," maka susunggunya suragalah tempat tinggal-(Nya)." Artinya, sesungguhnya dia tengah berjalan menuju surga.
Kemudian Allah ta'ala berfirman, "mereka bertanya kepada mu tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada tuhanmulah dikembalikan kesudahannya." Yaitu, ilmunya tidaklah diserahkan kepada kamu dan tidak pula kepada orang lain, bahkan hanya Allah saja yang tahu, sebagaimana firmannya, "dan saat itu tidak akan datang kecuali dengan tiba-tiba."
Allah Ta'ala berfirman, "kepada tuhanmulah dikembalikan kesudahannya." Ayat ini seperti firmannya," katakanlah, 'sesungguhnya ilmunya hanyalah disisi Allah. "'Firman-Nya," kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya." Yaitu, sesungguhnya aku mengutus tiada lain agar kamu memberi peringatan kepada umat manusia dan mewanti-wanti mereka dari siksa Allah dan hukuman-Nya. Maka oran yang takut kepada Allah pastilah akan mengikutimu, dan dia akan mendapatkan kebahagiaan. Sedangkan, orang-orang yang merugi adalah orang yang mendustakan dan menentang.
Allah Ta'ala berfirman," pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal melaikan diwaktu sore atau pagi hari." Yaitu, apabila mereka bangkti dari kuburan-kuburan mereka menuju padang mahsyar, mereka meraskan kehidupan dunia itu sangat sebentar sekali, sehingga seolah-olah dalam pandangan mereka hanya selama sore hari saja atau hanya selama pagi hari saja.
Leia Mais...
0

Keistimewaan Bulan Ramadhan dan Doa-doa Pilihan

Sabtu, 21 Agustus 2010.

Bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar. Semua amal soleh yang dilakukan pada bulan ini akan mendapat balasan lebih banyak dan lebih baik. Oleh karena itu kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Diantara keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan tersebut, disebutkan dalam beberapa riwayat:
1. Ramadhan adalah bulan penuh berkah, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun dibelenggu. Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ
Telah datang Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu, saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. (HR. Ahmad)

2. Allah SWT membebaskan penghuni neraka pada setiap malam bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda:
إذَا كَانَ أوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أبْوَابُ الجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
Jika awal Ramadhan tiba, maka setan- setan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Sedangkan pintu-pintu surga dibuka, dan tidak satu pintu pun yang ditutup. Lalu ada seruan (pada bulan Ramadhan); Wahai orang yang menginginkan kebaikan, datanglah. Wahai orang yang ingin kejahatan, tahanlah dirimu. Pada setiap malam Allah SWT memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka. (HR Tirmidzi)
3. Puasa bulan Ramadhan adalah sebagai penebus dosa hingga datangnya bulan Ramadhan berikutya. Rasulullah SAW bersabda:
اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَاُن إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاةٌ مَا بَيْنَهُنَّ إذَاجْتَنَبَ اْلكَبَائِرَ
Jarak antara shalat lima waktu, shalat jum’at dengan jum’at berikutnya dan puasa Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa- dosa yang ada diantaranya, apabila tidak melakukan dosa besar. (HR Muslim)
4. Puasa Ramadhan bisa menebus dosa-dosa yang telah lewat, dengan syarat puasanya ikhlas. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)
5. Barangsiapa memberi buka orang yang puasa maka mendapat pahala sebanyak pahala orang puasa tersebut.
مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أجْرِ الصَّا ئِمِ لَا يَنْقُصَ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ
Barangsiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut. (HR Ahmad)
6. Sedekah yang paling baik adalah pada bulan Ramadhan.
أيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ؟ قَالَ صَدَقَةٌ فَيْ رَمَضَانَ
Rasulullah SAW pemah ditanya; Sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Yaitu sedekah dibulan Ramadhan.” (HR Tirmidzi)
7. Orang yang banyak beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan, maka dosa-­dosanya diampuni oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)
8. Doa orang yang berpuasa adalah mustajab Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ ؛دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ
Ada tiga macam doa yang mustajab, yaitu doa orang yang sedang puasa, doa musafir dan doa orang yang teraniaya. (HR Baihaqi)
9. Puasa dan ِAl-Qur’an yang dibaca pada malam Ramadhan akan memberi syafaat kepada orang yang mengerjakannya kelak dihari kiamat. Rasulullah SAW bersabda:
اَلصُّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ اَلصِّيَامُ أيْ رَبِّ مَنَعْتُهُُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتَ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فَيْهِ وَيَقُوْلُ اْلقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِالَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ قَالَ فَيُشَفِّعَانِ
Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari”, ِAl-Qur’ an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat.” (HR Ahmad)
10. Orang yang melaksanakan Umrah pada bulan Ramadhan maka mendapat pahala seperti melakukan Haji. Rasulullah SAW bersabda:
فَإِنَّ عُمْرَةَ فِيْ رَمَضَانَ حَجَّةٌ
Sesungguhnya umrah dibulan Ramadhan sama dengan pahala haji. (HR Bukhari)
Doa-Doa Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, penuh berkah dan mustajab, maka kita sangat dianjurkan banyak berdoa. Diantara doa-doa penting dibaca pada bulan Ramadhan adalah:
1. Doa Bulan Rajab dan Sya’ban Menyambut Ramadhan:
اَللَّهُمَّ باَرِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْناَ رَمَضَانَ
“Ya Allah, berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadhan.” (HR Ahmad)
2. Doa Lailatul Qadr:
اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فاَعْفُ عَنَّا
Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, senang pada ampunan, maka ampunilah kami, wahai Dzat yang Maha Pemurah. (HR Tirmidzi)
3. Doa Shalat Witir:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّْوْسِ
Maha Suci Engkau penguasa yang memiliki kesucian. (HR Nasai)
سُبُّوْحٌ قُدُّْوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوْحِ
Maha Suci Engkau Dzat yang memiliki kesucian, Tuhannya para Malaikat dan Ruh. (HR Daruquthni)
4. Menjelang Berbuka Sebaiknya Membaca doa:
أشْهَدُ أنْ لاَإلَهَ إلاَّ اللهُ أسْتَغْفِرُ اللهُ أسْألُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Saya bersaksi tidak ada Tuhan Selain Allah, Saya mohon ampun kepada Allah, Saya mohon Ridha-Mu, Surga Mu dan selamatkanlah saya dari neraka.” Mu dan selamatkanlah saya dari neraka.
5. Doa Buka Puasa
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَاءُ وَابْتَلَّتْ العُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأجْرُ إنْ شَاءَ اللهُ
Ya Allah, Aku berpuasa hanya untuk- Mu dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Hilanglah rasa haus, tenggorakan menjadz basah, semoga pahala ditetapkan, insya Allah.” (HR Abu Dawud)
6. Jika Berbuka di Tempat Saudara dianjurkan mengucapkan:
أفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُوْنَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ اْلأبْرَارَ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلاَئْكَةُ
Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang puasa. Orang-orang baik memakan makanan kalian, dan para malaikat mendoakan kalian.” (HR Abu Dawud)
Leia Mais...
0

KELOMPOK-KELOMPOK MANUSIA DALAM BERPUASA

Selasa, 17 Agustus 2010.

KELOMPOK-KELOMPOK MANUSIA DALAM BERPUASA

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Bagian Kedua dari Empat Tulisan [2/4]

PARA UTUSAN SAMA HUKUMNYA DENGAN MUSAFIR WALAU UNTUK BEBERAPA TAHUN

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin dita : Kami termasuk kelompok yg diutus ke suatu negeri. Di antara kami ada yg diutus untuk satu tahun dan ada pula yg dua, tiga bahkan empat tahun. Maka ketika berpuasa, berlakukah untuk kami hukum yg sedang dalam perjalanan.?

Jawaban.
Hal diatas termasuk masalah yg diperselisihkan para cendekiawan dan ulama jumhur. Empat imam madzhab berpendpt bahwa mereka berkedudukan sebagai orang yg berada di tempat sendiri (muqimin), yakni tak berlaku hukum musafir, mereka wajib berpuasa sebagaimana mestinya, tak boleh mengqashar shalat dan tak boleh menyapu kedua sepatu selama tiga hari bahkan satu hari sekalipun. Sedangkan sebagian ulama menganggap mereka berada pada hukum orang yg sedang dalam perjalanan (musafir). Pedpt inilah yg dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid Ibnul Qayyim dgn memegang zahir nas yg tdk menentukan jarak tempuh suatu perjalanan.

Konon Ibnu Umar sempat bermukim selama enam bulan di Azerbeizan dan selama itu beliau mengqashar shalatnya. Pendpt ini jelas paling kuat. Tetapi siapa yg kesulitan namun ia tetap memegang pendpt jumhur, maka bagi tak jadi masalah. Inilah menurut pendpt kami dan Ibnu Taimiyyah.

ORANG ASING YANG TIDAK BERNIAT MUKIM SAMA KEDUDUKANNYA DENGAN MUSAFIR. PUASA WAJIB BAGI MEREKA YANG BERNIAT MUKIM SELAMANYA DI NEGERI ORANG.

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin dita :Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta alam, Dia-lah yg berhak dipuji krn kemualian-Nya dan keagungan-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad benar-benar hamba-Nya dan Rasul-Nya. Kedamaian dan keselamatan semoga dilimpahkan kpd para keluarganya, sahabat serta para pengikutnya.

Dalam majalah al-Muslimin terbitan hari Sabtu, 28 Sya’ban 1405H terdpt jawaban singkat tentang keringanan (rukhsah) bagi mereka yg diutus ke suatu negeri. Dari jawaban tersebut diterangkan bahwa mereka sama dgn musafir, yakni mereka berhak melakukan qashar shalat, berbuka puasa dan menyapu sepatu selama tiga hari. Karena jawaban tersebut terlalu singkat, maka saya dipinta oleh kawan-kawan untuk menyajikan lebih luas. Maka dgn memohon taufik dan hidayah Allah, saya kabulkan permintaan tersebut.

Orang yg meninggalkan negeri ada tiga macam :

[1] Berniat untuk menetap di negeri yg disinggahi dgn tanpa waktu dan tujuan tertentu yg pasti, seperti yg dilakukan para pekerja, para pedagang atau lainnya. Maka bagi mereka berlaku hukum yg sama dgn penduduk setempat ; wajib puasa di Ramadhan, tak boleh qashar shalat dan ha berhak menyapu kedua sepatu sehari semalam saja.

[2] Berniat untuk bermukim dalam waktu dan tujuan tertentu namun tak diketahui pasti kapan mereka akan pulang ke negerinya, contoh seperti para pedagang yg datang dan pergi untuk membeli barang atau para peneliti pemerintahan yg tak diketahui kapan berakhir tujuan mereka hingga kembali ke negeri masing-masing. Maka mereka termasuk kelompok musafir, boleh berbuka puasa, qashar shalat dan menyapu kedua sepatu selama tiga hari walau perjalanan tersebut beberapa tahun lamannya. Inilah pendpt jumhur ulama bahkan menurut Ibnu Mundhir termasuk ijma’.

[3] Berniat untuk bermukim dalam waktu dan tujuan tertentu yg diketahui pasti masa berakhir untuk pulang ke negeri masing-masing, maka status mereka yg demikian itu masih diperselisihkan ulama. Pendpt terkenal dari madzhab Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa jika niat mukim lebih dari empat hari, maka shalat tetap hrs dilakukan sebagaimana mestinya. Jika niat mukim kurang dari empat hari, maka shalat boleh di qashar. Menurut penyusun kitab al-Mughni (Jld. II, hal. 288) pendpt tersebut berasal dari Imam Malik, As-Syafi’i dan Abu Tsur. Konon pendpt ini diterima dari Utsman bin Affan.

Al-Tsaury dan para pemikir (ashab al-ra’y) berpendpt bahwa jika seseorang niat bermukim selama 15 hari mulai dari hari pertama, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya. Dan jika kurang dari 15 hari, maka shalat boleh diqashar. Disamping itu, masih ada beberapa pendpt sebagaimana dikemukakan oleh An-Nawawi dalam Syarah Al-Muhadzdzhab (Jld. IV, hal 220) sebanyak sepuluh pendpt yg saling bertentangan namun tak ada nas yg dpt menentukannya. Oleh krn itu, Syaikh Ibnu Taimiyyah dan murid Ibnul Qayyim berpendpt bahwa mereka bersetatus sebagai musafir dan berhak untuk berbuka puasa, qashar shalat dan menyapu kedua sepatu selama tiga hari (Lihat Majmu al-Fatawa, Jam’u Ibnu Qasim, hal. 137-138,184, jld 24, al-Ikhtiyarat, hal. 73; Zadul Maad, Ibnul Qayyim, hal. 29, III, tentang perang Tabuk. Dalam al-Furu’ Ibnu Muflih, salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Timiyyah, setelah mengemukakan silang pendpt, mengatakan jika seseorang beniat mukim lebih dari empat hari, maka menurut Syaikhuna dan yg lainnya, ia dipandang sebagai musafir dan berhak atas qashar dan berbuka bila belum pasti untuk bermukim umpama ha untuk berbuang hajat. Terjadi pendpt ini dipilih oleh Syaikh Abdullah bin Syaikh al-Islam Muhammad bin Abdul Wahhab pada kitab al-Durar al-Saniyyah, IV, hal, 372-375. Juga dipilih oleh Muhammad Rasyid Ridla, jld III, hal. 1180 dalam Fatawa al-Manar ; oleh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’ady, hal. 47 dalam al-Mukhtayarat al-Jaliyyah. Pendpt ini termasuk pendpt yg paling tepat bagi yg memperhatikan nas Kitab dan al-Sunnah. Yakni mereka boleh berbuka puasa dan qadla, seperti yg berlaku bagi orang macam kedua di atas, tetapi berpuasa labih baik bagi jika tdk ada kesulitan. Namun tak patut qadla diakhirkan sampai tiba Ramadhan berikutnya, sebab akan sulit melaksanakannya. Sedangkan perbedaan kelompok ini (ketiga) dgn kelompok pertama, bahwa kelompok ini bermukim dgn tujuan tertentu. Maka mereka hrs menunggu sampai waktu yg ditentukan dan jangan berniat mukim tanpa batas waktu (mutlak) bahkan mereka hrs menolak untuk shalat sebagaimana mesti (tetap hrs qashar) bila tujuan tercapai lebih dulu dari waktu dan mereka hrs tetap berada di tempat mukim hingga batas waktu. Sedangkan macam kelompok pertama, bermukim tanpa batas waktu tertentu, maka mereka hendak tetap berada di tempat mukim tak perlu menunggu sesuatu kecuali jika terkena peraturan tertentu. Dalam hal ini Allah Yang Maha mengetahui. Barangsiapa yg telah mendpt kejelasan atas pendpt yg terkuat lalu mengamalkannya, maka ia benar. Begitu pula siapa yg belum mendpt keterangan yg terkuat namun tetap memegang pendpt jumhur, maka iapun benar, sebab masalah ini termasuk persoalan ijtihad, di mana hasil tetap dihargai ; jika benar mendpt dua pahala dan jika keliru mendpt satu pahala. Keliru itupun diampuni Allah :

“Arti : Allah tdk membebani seseorang melainkan sesuai dgn kesanggupannya” [Al-Baqarah : 286]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Arti : Jika seorang hakim berijtihad dalam menetapkan hukum dan ternyata benar, maka ia mendpt dua pahala dan jika keliru maka mendpt satu pahala”.

Kami mohon kpd Allah semoga kami diberi taufik untuk mencapai kebenaran dalam aqidah, perkataan dan peruntukan, sebab Dialah Yang Maha Pemurah dan Maha Mulia. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kpd Nabi kita, Muhammad, kpd keluarga dan para sahabatnya.

[Disalin dari buku 257 Ta Jawab Fatwa-fatwa Al-Utsaimin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 186-191, terbitan Gema Risalah Press, alih bahasa Prof.Drs.KH.Masdar Helmy]
Leia Mais...
0

Keutamaan Malam Lailatul Qadar


Keutamaan Malam Lailatul Qadar


1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Cukuplah utk mengetahui tinggi kedudukan Lailatul Qadar dgn mengetahui bahwasa malam itu lbh baik dari seribu bulan Allah berfirman "Sesungguh Kami menurunkan Al Qur'an pada malam Lailatul Qadar tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lbh baik dari seribu bulan Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dgn izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan Selamatlah malam itu hingga terbit fajar." (Al Qadar : 1-5)
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yg penuh hikmah "Sesungguh Kami menurunkan pada suatu malam yg diberkahi dan sesungguh Kami-lah yg memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yg penuh hikmah (yaitu) urusan yg besar dari sisi Kami. Sesungguh Kami adl Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Ad Dukhan : 3 - 6)
2. Waktu datang Malam Lailatul Qadar

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21 23 25 27 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yg ada dalam masalah ini berbeda-beda Imam Iraqi telah mengaran suatu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bi Dzikri Lailatul Qadar membawakan perkataan para ulama dalam masalah ini)
Imam Syafi'i berkata "Menurut pemahamanku wallahu a'lam Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab sesuai yg ditanyakan ketika ditanyakan kepada beliau 'Apakah kami mencari di malam ini?' Beliau menjawab 'Carilah di malam tersebut.'"
Pendapat yg paling kuat terjadi malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'anha beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:
"Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan." (Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))
Jika seseorang merasa lemah atau tak mampu janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir krn riwayat dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Carilah di sepuluh hari terakhir jika tak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya." (HR. Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))
"Aku melihat mimpi kalian telah terjadi barangsiapa yg mencari carilah pada tujuh nari terakhir."
Telah diketahui dalam sunnah pemberitahuan ini ada krn perdebatan para shahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam keluar pada malam Lailatul Qadar ada dua orang sahabat berdabat beliau bersabda:
"Aku keluar utk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar tapi ada dua orang berdebat hingga tak bisa lagi diketahui kapan mungkin ini lbh baik bagi kalian carilah di malam 29 27 25 (dan dalam riwayat lain tujuh sembilan dan lima)." (HR. Bukhari (4/232))
Telah banyak hadits yg mengisyaratkan bahwa amalan Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir yg lain menegaskan dimalam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yg pertama sifat umum sedang hadits keuda adl khusus maka riwayat yg khusus lbh diutamakan daripada yg umum. Dan telah banyak hadits yg lbh menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan tetapi ini dibatasi kalau tak mampu dan lemah tak ada masalah dgn ini cocoklah hadits-hadits tersebut tak saling bertentangan bahkan bersatu tak terpisah.
Kesimpulan jika seorang muslim mencari malam Lailatul Qadar carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir 21 23 25 27 dan 29. Kalau lemah dan tak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25 27 dan 29. Wallahu a'lam.
3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar

Sesungguh malam yg diberkahi ini barangsiapa yg diharamkan utk mendapatkan maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu melainkan (bagi) orang yg diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh krn itu dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah utk menghidupkan malam Lailatul Qadar dgn penuh keimanan dan pengharapan pahala-Nya yg besar jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosa yg telah lalu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dgn penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka diampuni dosa-dosa yg telah lalu." (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759))
Disunnahkan utk memperbanyak do'a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah 'Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa dia berta "Ya Rasulullah apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi) apa yg harus aku ucapkan?" Beliau menjawab"
"Ucapkanlah Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yg meminta ampunan maka ampunilah aku." (HR. Tirmidzi (3760) Ibnu Majah (3850) dari 'Aisyah sanad shahih)
Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu utk mentaati-Nya- engkau telah mengetahui bagaimana keadaan Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir menghidupkan dgn ibadah dan menjauhi wanita perintahkan kepada istrimu dan keluargamu utu ktu perbanyaklah perbuatan ketaatan.
Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha:
"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan) beliau mengencangkan kain menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))
Juga dari 'Aisyah dia berkata:
"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yg tak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya." (Muslim (1174))
4. Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Ketahuilah hamba yg taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dgn ruh dari-Nya dan membantu dgn pertolongan-Nya- sesungguh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan pagi malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari 'Ubai Radhiyallahu 'anhu ia berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Pagi hari malam Lailatul Qadar matahari terbit tak menyilaukan seperti bejana hingga meninggi." (Muslim (762))
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau bersabda:
"Siapa di antara kalian yg ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah." (Muslim (1170 /Perkataan syiqi jafnah syiq arti setengah jafnah arti bejana. Al Qadhi 'Iyadh berkata "Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan krn bulan tak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.")
Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma ia berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"(Malam) Lailatul Qadar adl malam yg indah cerah tak panas dan tak juga dingin (dan) keesokan hari cahaya sinar matahari melemah kemerah- merahan." (Thayalisi (394) Ibnu Khuzaimah (3/231) Bazzar (1/486) sanad hasan)
Leia Mais...
THAKS FOR U ATTENTION
 
Santri Pesisir © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |